Adek Abu, anabul kesayangan kami, sakit keras. Ia sedang dalam perjalanan dari Bekasi ke Palimanan. Sore harinya, kabar duka itu datang: Adek Abu mati di jalan.
Mental saya runtuh. Rasanya ingin pulang saat itu juga. Cemas berkecamuk. Kalau satu kucing mati mendadak, biasanya virus. Saya teringat anabul lainnya di rumah. Tapi saya sedang bertugas. Masih ada dua hari lagi. Saya hanya bisa pasrah pada Pak Kartiwa, security rumah yang menjaga mereka.
Kami mencoba menghibur diri dengan mampir ke rumah Pak Jokowi di Sumber. Tapi "Pria Solo" itu sedang tidak di tempat. Kami pun lanjut ke Yogya.
Panturace dan Perpisahan Terakhir
Tim Liputan Balik Kampung 2026 FIN Group
Yogya menyambut kami dengan Gudeg Sagan. Pilihan Aldo. Biasanya orang cari Yu Djum, tapi Aldo meyakinkan kami bahwa nangka di Sagan ini beda kelas. Benar saja, dia tak pernah gagal soal lidah.
Malam terakhir di Best City Hotel terasa melankolis. Esoknya, 19 Maret, kami harus menghadapi kenyataan pahit: jalan tol one way dari arah Jakarta. Artinya, kami terusir ke jalur bawah. Jalur legendaris yang oleh Aldo dijuluki: Panturace.
Irit e-toll, tapi boros BBM. Perjalanannya seperti roller coaster. Sudah bertahun-tahun saya tidak lewat sini sejak ada Trans Jawa. Tapi Aldo luar biasa. Ia menyetir sendirian dari Yogya sampai Jakarta. Tiba di kantor subuh, 20 Maret. Sayup-sayup takbiran terdengar. Muhammadiyah sudah lebaran hari itu.
Namun, drama belum usai.
Baca Juga
Setibanya di kantor, Pak Kartiwa menelpon dengan berita duka jilid dua. Adek Betmen, anabul saya yang lain, sedang sekarat. Saya lemas. Perjalanan tujuh hari ini ditutup dengan aroma perpisahan.
Terima kasih Aldo, Ari, dan Rendy. Maafkan jika ada candaan yang keterlaluan di aspal. Terima kasih untuk para sponsor: Jasa Marga, ASTRA Infra, dan Wahana Honda. Juga untuk Kak Michelle, Kak Desmonda, Kak Aulia, Mas Ardam, Mas Tyo, Mbak Krita, dan Kak Faiza.
Misi selesai. Tapi rindu pada yang telah pergi, baru saja dimulai. (Selesai)