Kesehatan . 24/03/2026, 09:51 WIB
fin.co.id - Kenaikan berat badan saat fase premenstrual syndrome (PMS) adalah hal yang sangat lumrah dialami oleh hampir seluruh wanita di dunia. Lonjakan ini sering kali memicu rasa tidak percaya diri, padahal tubuh sebenarnya hanya sedang bereaksi terhadap perubahan hormon yang ekstrem.
Kenaikan berat badan ini biasanya berkisar antara 1 hingga 3 kilogram. Kabar baiknya, angka tersebut bukanlah lemak permanen, melainkan akumulasi cairan dan perubahan metabolisme sementara. Namun, memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh sangat penting agar Anda tidak terjebak dalam rasa cemas yang berlebihan.
Mari kita bedah lebih dalam mengenai mekanisme biologis yang menyebabkan angka timbangan Anda bergerak ke kanan menjelang tamu bulanan datang.
Penyebab utama mengapa tubuh terasa "mengembang" adalah retensi air atau penumpukan cairan. Menjelang menstruasi, hormon estrogen dalam tubuh akan meningkat mencapai titik tertingginya sebelum akhirnya turun drastis. Perubahan level hormon ini merangsang ginjal untuk menahan lebih banyak natrium di dalam tubuh.
Sesuai hukum biologi, di mana ada garam, di situ ada air. Tubuh Anda akan menyimpan cairan lebih banyak di jaringan ikat, yang mengakibatkan perasaan begah dan kembung. Biasanya, sensasi ini akan mencapai puncaknya pada hari pertama haid dan perlahan menghilang seiring dengan keluarnya darah menstruasi.
Selain estrogen, hormon progesteron juga memainkan peran antagonis bagi bentuk tubuh Anda. Progesteron meningkat pada fase luteal (setelah ovulasi). Dampak negatifnya, hormon ini cenderung membuat otot-otot di saluran pencernaan menjadi lebih rileks dan bekerja lebih lambat.
Akibatnya, proses pembuangan sisa makanan terhambat, yang sering kali memicu sembelit atau konstipasi. Penumpukan feses di dalam usus inilah yang memberikan kontribusi nyata pada kenaikan angka di timbangan. Jika Anda merasa perut lebih keras dari biasanya, progesteron kemungkinan besar adalah pelakunya.
Pernah merasa sangat ingin makan cokelat, martabak, atau mi instan di tengah malam menjelang haid? Anda tidak sendirian. Menurunnya kadar hormon serotonin (hormon kebahagiaan) sebelum haid memicu otak untuk mencari sumber kebahagiaan instan dari makanan.
Tubuh secara alami akan meminta asupan karbohidrat tinggi dan gula untuk mendongkrak kembali kadar serotonin tersebut. Masalahnya, asupan kalori berlebih ini jika tidak dikontrol akan benar-benar berubah menjadi lemak. Selain itu, makanan tinggi garam yang sering dikonsumsi saat craving akan memperparah retensi air yang sudah dijelaskan di poin pertama.
Banyak wanita yang tidak menyadari bahwa kadar magnesium dalam tubuh cenderung menurun drastis sesaat sebelum siklus menstruasi dimulai. Magnesium memiliki peran vital dalam mengatur hidrasi tubuh dan menjaga kadar insulin tetap stabil. Ketika mineral ini rendah, tubuh akan mengirimkan sinyal lapar yang palsu, terutama keinginan untuk mengonsumsi gula.
Kekurangan magnesium juga membuat otot lebih mudah tegang dan memicu kram. Untuk mengatasinya, cobalah mengonsumsi bayam, kacang-kacangan, atau dark chocolate tanpa pemanis tambahan guna menekan keinginan makan berlebih yang bisa merusak program diet Anda.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id