Internasional . 17/03/2026, 16:11 WIB
fin.co.id - Kuba kembali menghadapi krisis energi besar setelah sistem jaringan listrik nasionalnya kolaps pada hari Senin, meninggalkan jutaan warga tanpa pasokan listrik. Insiden ini menambah daftar panjang pemadaman listrik yang telah menjadi sumber ketidakpuasan publik di negara tersebut.
Menurut Unión Eléctrica (UNE), kolaps terjadi akibat kombinasi kekurangan bahan bakar kronis dan gangguan pada sistem jaringan listrik itu sendiri. Kuba sangat bergantung pada impor minyak, terutama dari Venezuela, yang sebelum Januari 2026 memasok sekitar 35.000 barel minyak per hari. Namun, pasokan tersebut berhenti setelah penahanan presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh Amerika Serikat, dan serangkaian tindakan tekanan AS terhadap pengiriman minyak ke Kuba.
Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, menyatakan bahwa dalam tiga bulan terakhir tidak ada pasokan minyak baru yang masuk ke negara itu. Hal ini memperparah ketergantungan sistem jaringan listrik pada stok energi yang terbatas, sehingga ketika gangguan teknis terjadi, pemadaman meluas secara nasional.
Pemadaman listrik massal ini memengaruhi seluruh aspek kehidupan di Kuba. Aktivitas harian, layanan publik, transportasi, dan komunikasi terganggu. Sejumlah warga melaporkan harus menggunakan senter dan lampu darurat untuk melakukan kegiatan dasar, sementara fasilitas kesehatan dan industri menghadapi risiko terganggunya operasional kritis.
Krisis energi juga memicu ketidakpuasan publik. Dalam beberapa tahun terakhir, pemadaman listrik di Kuba telah memicu protes jarang terjadi, termasuk penyerbuan gedung partai Komunis di Moron terkait kenaikan harga pangan dan gangguan pasokan listrik. Seorang warga Havana mengungkapkan bahwa pemadaman terbaru “tidak mengejutkan”, karena masyarakat mulai terbiasa hidup dalam kondisi listrik yang tidak stabil.
Pemadaman listrik nasional ini terjadi di tengah tekanan politik yang meningkat dari Amerika Serikat. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan niatnya untuk memanfaatkan situasi Kuba yang melemah, bahkan mengisyaratkan kemungkinan “pengambilalihan ramah”. Di sisi lain, pemerintah Kuba sedang dalam tahap awal pembicaraan dengan pihak AS untuk meredakan ketegangan.
Gangguan energi ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga mencerminkan tekanan geopolitik yang dialami Kuba. Negara yang bergantung pada impor energi kini menghadapi dilema antara menjaga stabilitas internal dan menanggapi tekanan eksternal yang berkelanjutan.
UNE menyatakan bahwa pihaknya sedang secara bertahap memulihkan pasokan listrik di berbagai provinsi dan kota. Meski demikian, pemulihan total diperkirakan memerlukan waktu karena sistem jaringan listrik nasional telah mengalami kerusakan signifikan. Pemulihan ini menjadi ujian bagi kemampuan teknis dan manajemen energi Kuba di tengah keterbatasan sumber daya.
Kolapsnya sistem jaringan listrik nasional Kuba menyoroti keterbatasan infrastruktur energi di negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar. Peristiwa ini tidak hanya berdampak langsung pada kehidupan warga, tetapi juga menjadi indikator tekanan sosial, ekonomi, dan politik yang dialami Kuba. Ke depan, pemulihan pasokan listrik dan diversifikasi sumber energi menjadi kunci untuk mengurangi kerentanan negara terhadap krisis energi dan ketegangan internasional.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id