Gue Berani: Filosofi Gantangan De'Limbong

fin.co.id - 15/02/2026, 22:41 WIB

Gue Berani: Filosofi Gantangan De'Limbong

David Limbong bersama Indigo - Dok Pribadi -

Oleh: Sigit Nugroho

Namanya David Limbong, tapi di kontak WhatsApp saya tertulis, De'Limbong. Jangan tanya saya kenapa menamai beliau seperti itu, karena itu dia sendiri yang menamai De'Limbong di username WA-nya. Ngomong-ngomong nama Limbong, saya teringat mantan Kepala Sekolah STM Bonser 2 waktu tahun 1998-an, namanya Pak Limbong.

Sosok De'Limbong yang saya bahas kali ini adalah seorang pria kelahiran 1978. Alumnus STM St. Fransiskus Kramat, Jakarta Pusat (Musuh dari STM saya dulu, Bonser). Beliau tetangga saya. Sehari-hari, penampilannya rapi: ia mengabdi di bagian Administrasi Kesekretariatan BPK Penabur. Namun, di balik meja kantor yang tertata, De'Limbong menyimpan gairah yang berisik—suara kicauan burung yang telah menemaninya sejak duduk di bangku SMP.

Dulu, saat masih kuliah di STEI Rawamangun, De'Limbong hanya bermain di teras rumah. Memelihara merpati tanpa ambisi kompetisi. Namun, darah petualang binatang memang mengalir dari sang Ayah. Anda bayangkan, di rumahnya yang saat itu minim lahan di kawasan Rawamangun, ia pernah "menyulap" lingkungan sekitar jadi kebun binatang mini.

"Saya didukung Bapak. Ada monyet diikat di samping rumah, ayam dilepas begitu saja, bahkan bebek saya pelihara di selokan," kenangnya tertawa. Meski sempat diprotes kakak dan adiknya karena urusan kotoran, De'Limbong bergeming. Baginya, merawat nyawa adalah kepuasan yang sulit dijelaskan.

Titik balik "karir" hobi De'Limbong dimulai tahun 2019. Dari sekadar hobi rumahan, ia mulai menjajaki kerasnya pagar pembatas arena lomba—atau yang akrab disebut Gantangan.

Lakon utamanya bernama Indigo.

Gue Berani: Filosofi Gantangan De'Limbong

Kisah David Limbong (De'Limbong) merawat Indigo, kenari jawara Piala Erick Thohir. Dari sekadar hobi masa kecil hingga meraih ratusan piala dari arena gantangan.

Indigo adalah seekor Kenari asal Malang yang dibelinya seharga Rp2 juta. Angka yang mungkin biasa bagi pemain besar, tapi bagi David, itu adalah investasi perasaan. Di tangan De'Limbong, Indigo diolah. Dari "bahan" mentah menjadi jawara yang disegani di arena G12 hingga G36. Puncaknya, Indigo menyabet juara di Piala Erick Thohir.

"Indigo pernah ditawar 10 juta, tapi nggak saya lepas. Masih sayang-sayangnya," ujar De'Limbong. Namun, hobi selalu punya sisi melankolis. Tahun 2024, sang jawara Indigo harus pensiun karena katarak. Sebuah kehilangan yang membuat De'Limbong sempat beralih fokus ke Lovebird.

Bagi De'Limbong, merawat burung adalah soal ritual subuh. Pukul 04.00 pagi, saat Jakarta masih terlelap, ia sudah "mengembunkan" jagoannya. Dibuka kerodongnya, dibiarkan menghirup udara dingin, lalu dijemur saat matahari mulai naik. Pulang kerja, ritual itu berulang.

"Saya lebih suka berproses. Beda orang, beda settingan," katanya. Ia tak silau dengan burung harga selangit. Baginya, burung mahal sekalipun tak akan jadi apa-apa tanpa ketelatenan memberikan extra fooding dan vitamin yang tepat.

Tentu, dunia gantangan tak selamanya manis. De'Limbong pernah merasakan pedihnya burung hilang digondol maling, mati mendadak, hingga rasa sesak saat merasa "dipermainkan" di arena lomba. Tapi di situlah mentalnya diuji. Dukungan anak dan istri kini menjadi bahan bakar utamanya untuk tetap turun ke lapangan setiap akhir pekan.

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Pemimpin Redaksi FIN.CO.ID