Tas itu tergeletak di antara lumpur dingin Cisarua. Di dalamnya tersimpan pesan haru: janji seorang anak kepada ibunya yang hingga kini belum pulang. ---------------------------------------
HUJAN turun di perbukitan Cisarua, Desa Pasir Langu, Bandung Barat. Basah. Licin. Berbau lumpur. Sepatu tim SAR tenggelam separuh setiap kali melangkah.
Udara dingin menusuk tulang. Bercampur bau tanah basah dan solar mesin ekskavator. Suara alat berat bersahutan di antara doa-doa yang dilafalkan.
Setiap gundukan lumpur dikeruk perlahan. Seolah-olah takut melukai sesuatu yang tersisa di bawahnya. Di tempat itu, harapan dan ketakutan berjalan beriringan.
Di tengah hiruk-pikuk evakuasi di Sektor A2, sebuah tangan terbungkus sarung tangan karet merogoh ke dalam gundukan tanah.
Sebuah tas ransel ditemukan. Bukan tas mewah. Warnanya kusam. Tali bahunya kotor. Penuh lumpur. Sobek di satu sisi. Tapi tas itu bukan benda biasa. Ia menjadi saksi bisu dari sebuah pengabdian.
Saat ransel dibuka, lumpur pekat menempel di setiap lipatan. Ada barang yang menarik perhatian tim SAR. Sebuah dompet. Di dalam dompet itu, terlihat tulisan tangan. Masih terbaca jelas, meski tinta birunya mulai memudar.
“IBU ADALAH ALASANKU UNTUK PULANG DENGAN UTUH,” demikian bunyi tulisan tangan di dompet lusuh itu.
Tak ada kartu identitas. Hanya sebuah pas foto. Laki-laki berseragam militer: PDH biru. Juga coretan bertuliskan: DANTIHI 2. UNIT 2 dan SRDA SELIMAN A serta sebuah tanda tangan.
Baca Juga
Kalimat tersebut menghentikan waktu. Dompet milik siapa? Tak ada yang tahu. Yang jelas, pemiliknya adalah seseorang yang terbiasa hidup dalam kesiapsiagaan.
Seorang yang paham risiko tugas. Namun tetap menuliskan alasan untuk pulang. Iya. Dia adalah seorang prajurit. Sosok yang dididik sangat keras untuk tegak berdiri di garis depan. Yang selalu siap siaga meski nyawa jadi taruhan.
Namun, di balik seragamnya yang gagah, ia tetaplah seorang anak. Dia rindu masakan rumah, senyum tulus dan hangatnya pelukan dari perempuan yang melahirkannya.
Semua terdiam. Semua membisu. Tak ada yang berbicara. Anggota SAR hanya bisa menunduk. Menarik napas panjang. Yang lain mengusap wajahnya dengan punggung tangan berlumpur.
Kalimat sederhana itu pendek. Jujur. Tanpa hiasan. Namun guncangannya lebih keras dari suara longsor itu sendiri. Kalimat itu bukan sekadar catatan. Itu adalah janji. Iya. Janji seorang anak kepada ibunya.
Janji yang ditulis dengan keyakinan. Dengan harapan untuk kembali. Selesai bertugas. Selamat dan tetap utuh. Namun hingga saat ini, pemilik tas itu belum ditemukan.