Viral . 04/02/2026, 11:55 WIB

Viral Surat Wasiat Pilu Bocah SD di NTT Sebelum Akhiri Hidup: Mama, Saya Pergi Dulu Jangan Menangis

Penulis : Sigit Nugroho
Editor : Sigit Nugroho

fin.co.id - Kabar duka yang sangat menyayat hati datang dari Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa sekolah dasar (SD) berinisial YBS (10) nekat mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat dramatis. Penemuan jasad korban yang tergantung di pohon cengkeh pada Kamis, 29 Januari 2026, langsung memicu gelombang keprihatinan luas di media sosial.

Tragedi ini menjadi semakin emosional setelah pihak kepolisian dari Polres Ngada menemukan sebuah surat tulisan tangan saat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Surat tersebut berisi pesan perpisahan terakhir korban yang ditujukan khusus untuk ibunya. Isinya sungguh menyakitkan dan kini menjadi viral, mengingatkan kita semua akan pentingnya kesehatan mental anak di lingkungan keluarga.

Isi Surat "Mama Reti" yang Bikin Netizen Menangis

Siswa kelas IV SD ini menuliskan pesannya menggunakan bahasa daerah Ngada yang sangat menyentuh. Dalam secarik kertas tersebut, YBS mencoba berkomunikasi terakhir kalinya dengan sang ibu, yang ia panggil Mama Reti. Surat itu seolah menjadi saksi bisu beban mental yang selama ini ia pendam sendiri di pondok sederhana tempatnya tinggal bersama sang nenek.

Berdasarkan terjemahan pesan yang beredar, korban memulai suratnya dengan kalimat “Kertas Tii Mama Reti” yang berarti "Surat untuk Mama Reti". Pesan intinya sungguh membuat siapa pun yang membacanya merinding: “Mama Galo Zee” atau "Mama, saya pergi dulu".

Pesan Perpisahan: Jangan Cari dan Jangan Tangisi Saya

Meskipun baru berusia 10 tahun, YBS menuliskan permintaan yang sangat mendalam agar ibunya mengikhlaskan kepergiannya. Ia berkali-kali meminta sang ibu untuk tetap kuat dan tidak meneteskan air mata melalui kalimat “Mama molo Ja'o” dan “Galo mata Mae Rita ee Mama”.

Bocah malang ini juga meminta agar ibunya tidak perlu lagi merindukan atau mencarinya di masa depan. Surat itu ia tutup dengan kalimat perpisahan terakhir, “Molo Mama” yang berarti "Selamat tinggal, Mama". Kesedihan makin memuncak karena di akhir kertas tersebut, korban menggambar simbol wajah anak yang sedang menangis.

Tragedi di Dusun Sawasina: Polisi Lakukan Penyelidikan

Petugas menemukan YBS dalam kondisi sudah tidak bernyawa di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu. Lokasi pohon cengkeh tempat kejadian perkara berada tidak jauh dari tempat tinggalnya. Keberadaan surat wasiat tersebut menjadi bukti krusial bagi kepolisian untuk memahami motif di balik aksi nekat sang bocah.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi para orang tua dan pendidik. Di tengah kesibukan, seringkali tanda-tanda depresi atau tekanan batin pada anak-anak usia sekolah luput dari pengawasan. Tragedi di Ngada ini harus menjadi titik balik bagi kita untuk lebih peduli pada kondisi psikologis anak, sekecil apa pun perubahan perilaku mereka.

Pentingnya Pendampingan Mental Anak Sejak Dini

Kematian YBS meninggalkan luka mendalam bagi warga NTT. Gambar wajah menangis dalam surat wasiatnya seolah berteriak meminta pertolongan yang terlambat datang. Masyarakat kini berharap agar pemerintah daerah dan lembaga terkait lebih aktif memberikan edukasi mengenai pencegahan bunuh diri dan pendampingan mental bagi anak-anak yang tinggal berjauhan dengan orang tua kandung mereka. (*)

Disclaimer: Artikel ini terkait kasus bunuh diri, bisa jadi sensitif bagi sebagian orang. Segera hubungi profesional apabila mengalami dorongan serupa.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id