Entertainment . 13/01/2026, 22:25 WIB
Demi menghindari konflik dan menjaga perasaan mantan kekasihnya, Aurelie terpaksa mengiyakan.
Meskipun ia mengaku menyukai seni tato, alasan utama di balik tato pertamanya terasa sangat menyakitkan.
"Akhirnya aku tato gara-gara itu, untuk bikin pacar aku percaya aku enggak akan ikutan.
Itu semua cuma untuk ngejaga perasaan dan mentalnya pacar aku," imbuhnya.
Kisah tato itu hanyalah puncak gunung es dari hubungan yang penuh kontrol dan eksploitasi.
Buku "Broken Strings" secara mendalam membedah bagaimana tahun-tahun masa remaja Aurelie dihabiskan dalam cengkeraman kekuasaan mantan kekasihnya.
Ia bukan hanya digiring untuk membuat tato, namun juga dikendalikan dalam berbagai aspek kehidupan.
Pola kontrol yang sangat ketat dan beracun inilah yang menjadi ciri khas hubungan tersebut.
Meskipun dari luar terlihat seperti romansa biasa, di dalamnya terjalin jaring manipulasi yang mematikan.
Aurelie menjadi korban *child grooming*, sebuah praktik mengerikan di mana pelaku yang jauh lebih tua mendekati dan memanipulasi anak di bawah umur.
Tujuannya jelas: mematikan potensi dan impian korban agar tetap mudah dikendalikan.
Buku ini menjadi bukti nyata bagaimana grooming bekerja, perlahan tapi pasti merampas kebebasan dan cita-cita seseorang.
Kini, Aurelie Moeremans berani bersuara melalui memoarnya.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id