Tarjomen: Dari Layar Kaca ke Dandang Bubur Segara

fin.co.id - 11/01/2026, 13:55 WIB

Tarjomen: Dari Layar Kaca ke Dandang Bubur Segara

Arief Siswanto "Tarjomen" beserta keluarga kecilnya, dengan latar belakang "Bubur Segara" - Dok. Pribadi -

Hari itu, gerimis tipis membasuh pelataran Mutiara Gading City. Di balik uap hangat yang tersisa dari dandang yang sudah kosong melompong, ada sebuah senyum lebar. Sebuah senyum dari pria yang memilih "pensiun" dari hiruk-pikuk industri televisi untuk mengejar keberkahan di setiap mangkuk bubur.

Sigit Nugroho-BEKASI

Minggu pagi, 11 Januari 2026, suasana di cabang kedua Bubur Segara terasa syahdu. Udara dingin Bekasi menusuk tulang, tapi kehangatan justru datang dari sosok pria berseragam merah dengan sepatu sport merah menyala. Ia adalah Arief Siswanto, atau yang lebih kondang dengan nama panggungnya: Tarjo.

Dulu, Tarjo adalah orang di balik layar. Ia adalah punggawa teknis di televisi swasta nasional, mulai dari TV One hingga MNC Group. Nama "Tarjomen" bahkan sempat menjadi julukan "superhero" di dunia broadcast karena kepiawaiannya mengawal siaran langsung tanpa cela. Namun, di balik gemerlap layar kaca, ada hati yang teriris kekecewaan karena konflik internal dan fitnah gratifikasi yang tak pernah ia lakukan.

"Cita-cita jadi pengusaha itu ada, tapi enggak pernah terbayang jadi tukang bubur," kenang Tarjo sambil sesekali menghisap sebatang rokok dan menyeruput kopi hitam, menghangatkan suasana dingin yang menyelimuti perumahan MGC siang itu.

Titik balik itu datang saat pandemi Covid-19 menghantam tahun 2020. Berawal dari niat tulus menyedekahkan bubur untuk tetangga yang sedang isolasi mandiri (isoman), siapa sangka resep coba-cobanya justru jadi rebutan.

Bubur buatan Tarjo berbeda. Jika bubur Cirebon identik dengan kuah kuning, Bubur Segara tampil "kering" namun kaya rasa. Rahasianya? Tanpa micin.

"Inspirasinya dari bubur hotel. Saya sering tugas dan menginap di hotel, saya berpikir bagaimana resep premium ini bisa dinikmati orang banyak dengan harga murah," tuturnya.

Tarjomen: Dari Layar Kaca ke Dandang Bubur Segara

Arief Siswanto A.K.A Tarjomen

Perjalanan "Tukang Bubur Naik Kelas" ini tidak semulus jalan tol. Awalnya, Tarjo harus kucing-kucingan dengan waktu; jualan pagi, lalu berangkat kerja ke kantor. Orang tuanya pun sempat tak merestui. Bagaimana mungkin seorang level manajerial di TV nasional banting setir jadi tukang bubur?

Namun, Tarjo membuktikan dengan hasil. Dari modal barang second hasil berburu di marketplace—mulai dari tenda hingga gerobak—kini Bubur Segara sudah merambah ke tiga cabang. Dari yang awalnya hanya 10 porsi, kini ia mampu menjual hingga 300 porsi per hari.

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Pemimpin Redaksi FIN.CO.ID