Kami berhenti di satu lapak milik seorang pedagang yang ramah dan cekatan. Namanya Pak Mawi. Dari gaya bicaranya, ini orang yang sudah makan asam garam dunia ikan.
Setelah memilih beberapa koi, tibalah momen sakral, biasa soa nego harga.
Saya membuka dengan gaya santai.
“Jadi berapa, Mang?”
Pak Mawi menjawab tanpa ragu.
“Yaudah, lepas aja 300.”
Baca Juga
Sebagai ayah yang merasa wajib mencoba, saya pun melakukan ritual turun-temurun.
“200 aja ya, Mang.”
Pak Mawi tersenyum. Senyum orang yang sudah tahu ending cerita.
“250 aja. Saya jamin ikannya sehat.”