“Koi… Koi… ikan mas juga ada nih!”
“Cupang, cupang, warnanya cakep!”
“Arwana kecil, murah, murah!”
Nada mereka bukan marah, bukan juga sekadar memanggil. Ini semacam seni. Kadang tinggi, kadang rendah, kadang bikin orang refleks nengok walau tidak niat beli.
Baca Juga
Dari semua teriakan itu, satu kata yang paling sering membuat saya menoleh adalah 'Koi'.
Bukan karena saya penggemar berat, tapi karena anak saya memang sudah mengunci targetnya sejak dari rumah.
Sejak masuk area pasar, si Nezar sudah berubah jadi komisaris utama proyek pembelian koi. Setiap melihat ikan lain, reaksinya datar. Tapi begitu melihat koi, matanya berbinar.
“Ayahh… koi aja,” teriaknya
Saya coba alihkan ke ikan lain. Koki? Tidak. Guppy? Tidak. Cupang? Lewat. Tetap koi.
Setelah berputar-putar mengelilingi hampir semua area pasar yang jaraknya terasa dua kali lebih jauh karena penuh sesak dan licin saya akhirnya menyerah.
Ini bukan lagi soal ikan, tapi soal mempertahankan kewarasan.