Tangisan Sunyi di Lobi RS Polri

fin.co.id - 14/12/2025, 10:00 WIB

Tangisan Sunyi di Lobi RS Polri

Kebakaran hebat yang melalap Gedung PT Terra Drone Indonesia tak hanya meninggalkan puing dan abu. Namun juga menyisakan luka yang tak kasat mata, menganga di dada seorang ayah bernama Endang Supardi.

Afdal Namakule - Jakarta

SIANG itu Rabu 10 Desember 2025 di Rumah Sakit Polri, Keramat Jati, Jakarta Timur, Endang Supardi tak kuasa menahan kesedihannya. Pria paruh baya itu duduk menyendiri di tangga lobi samping Pos DVI. Kedua tangannya menutup wajahnya. Seolah menyembunyikan kesedihan yang menyesakkan dada. Tatapannya kosong menatap lantai, matanya sembab. Setiap helaan napasnya berat, seakan dunia runtuh tepat di hadapannya.

Endang Supardi adalah ayah dari Ervina (25), salah satu korban yang meregang nyawa dalam kebakaran hebat Gedung PT Terra Drone Indonesia di Jalan Jenderal Suprapto, Kelurahan Cempaka Baru, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat pada Selasa siang, 9 Desember 2025. Api yang menghanguskan lantai demi lantai gedung itu tak hanya membakar bangunan, tetapi juga mengukir luka di dada seorang Ayah.

Dengan topi hitam menutupi kepalanya, kaus abu-abu, dan celana hitam, Endang duduk menyendiri menunggu proses identifikasi jenazah putri bungsunya. Isak tangisnya lirih memecah keheningan. Ia menunggu kepastian yang sejatinya tak pernah ingin ia dengar. Setiap menit terasa seperti hukuman, setiap detik seperti mengorek luka yang tak akan pernah kering.

Ervina adalah satu dari 22 korban yang tak selamat dalan peristiwa naas itu. Hari itu, Gedung PT Terra Drone di Jalan Jenderal Suprapto, Kelurahan Cempaka Baru, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, diselimuti asap hitam tebal yang membumbung hingga lantai enam. Kepanikan menyelimuti kawasan Kemayoran. Warga sekitar berusaha membantu, sementara sebagian korban terlihat bergantungan di lantai atas, menunggu pertolongan pemadam kebakaran.

Tangisan Sunyi di Lobi RS Polri

Endang Supardi Ayah Ervina (25) korban kebakaran gedung PT Terra Drone, menunggu identifikasi jenazah anaknya di Rumah Sakit Polri. (Tangkapan layar video Kumparan).

Di tengah kekacauan itu, Ervina terjebak di lantai tiga. Dalam situasi genting, Ervina sempat meraih ponselnya. Ia mengirimkan pesan suara terakhir melalui WhatsApp, seolah ingin berpamitan pada keluarganya.

Ferry, salah satu anggota keluarga, mengenang detik-detik terakhir Ervina mengirim pesan suara itu. Ia mengatakan, Ervina sempat mengirim voice note kepada kakaknya saat kebakaran baru terjadi. Namun setelah pukul 13.15 WIB, ponsel itu tak lagi bisa dihubungi.

"Iya, awal kebakaran dia ngirim ke kakaknya yang nomor 5. Iya (VN itu) kabar terakhir itu di pukul 13.15 WIB. Itu udah terakhir kali. Udah lost contact (setelah kirim VN), habis itu udah nggak ada informasi apa pun," ucap Ferry kepada wartawan di RS Polri Keramat Jati.

Voice note itu singkat, terengah-engah, namun menyimpan kepedihan yang tak terucap. Dalam rekaman tersebut, Ervina meminta maaf, seolah menyadari bahwa waktu sedang mengejarnya.

“Gua udah gak tau lagi ya, eh sumpah ini gua udah… udah bener-bener gak bisa ngapa-ngapain. Gua udah bener-bener gak bisa ngapa-ngapain deh ya, guys, maaf banget gua… gua gak tau lagi nih,” demikian suara Ervina, pecah di antara kepulan asap dan jeritan panik.

Di balik suaranya, terdengar jeritan panjang seorang perempuan lain yang meminta tolong. Tak ada nama, tak ada wajah. Hanya suara yang kini menjadi bayangan mencekam tentang detik-detik terakhir di lantai tiga gedung itu.

Ketika rekaman itu diperdengarkan di RS Polri, tangisan Endang Supardi yang berdiri di samping Ferry pun pecah. Ia tak sanggup membayangkan apa yang dialami putrinya di saat-saat terakhir. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, seperti duka yang akhirnya menemukan jalannya.

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Penulis FIN.CO.ID