“Capek iya, tapi kalau ramai-ramai begini, rasanya seperti keluarga,” imbuhnya seraya tak ada kegetiran di senyumnya.
Fasilitas yang mereka dapatkan tergolong minimalis, namun cukup untuk bertahan di tengah kerasnya medan proyek.
Perusahaan konstruksi menyediakan tempat tidur, air bersih, dan dapur bersama, bahkan transportasi antar-jemput ke lokasi kerja.
“Bapak (I Nyoman Nuarta) tidak membolehkan pekerja tidur di lokasi proyek,” kata salah seorang pekerja di area pembangunan Istana Presiden.
“Jadi semua harus pulang ke barak setelah shift selesai,” ujarnya.
Pagi yang Dimulai Sebelum Fajar
Setiap hari, kehidupan di kawasan IKN dimulai sebelum matahari terbit. Pukul 5 pagi, para pekerja sudah bangun, mandi dengan air sumur, dan sarapan cepat, biasanya nasi, sambal, dan telur goreng.
Tepat pukul 6 pagi, suara mesin, truk, dan palu mulai menguasai udara.
Ya, mereka bekerja dalam dua shift, bergantian siang dan malam.
“Waktu kerja di IKN itu 24 jam,” kata AN.
Baca Juga
“Kalau bukan kami yang kerja siang, teman-teman lain gantian malam,” sambungnya.
Di bawah terik matahari Kalimantan yang menyengat, mereka tetap gagah bekerja.
Namun, saat hujan datang tiba-tiba, sebagian mencari tempat berteduh, sebagian lain tetap memaksakan diri menyelesaikan target harian.
“Kalau hujan ya berhenti, mau gimana lagi. Tapi kalau hujan terus, ya pendapatan juga turun,” keluh AN.