Namanya mungkin tak tercatat di prasasti. Tapi jasanya sangat berharga. Rela jauh dari keluarga, demi sebuah asa. Inilah cerita para pekerja Ibu Kota Nusantara. Bukan sekadar buruh proyek, melainkan saksi hidup lahirnya sejarah baru Indonesia.
Derry Sutardi - Kalimantan Timur
Di tengah lebatnya hutan Kalimantan Timur, bunyi dentuman palu dan gesekan besi menggema sejak pagi buta.
Ya, itulah irama baru di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), proyek ambisius yang mengubah hamparan rimba menjadi pusat pemerintahan masa depan Indonesia.
Ribuan pekerja dari berbagai daerah di Indonesia datang membawa harapan. Dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara, mereka tiba di tanah yang dulunya sunyi, kini menjadi tempat perjuangan dan mimpi.
Mereka bukan pejabat, bukan pengusaha besar, tapi pekerja bangunan atau yang akrab dipanggil kuli, yang kini menjadi tulang punggung sesungguhnya dari pembangunan raksasa ini.
“Kalau kami berhenti, ya bangunannya berhenti,” kata AN, seorang pekerja konstruksi asal Cirebon, sambil mengelap keringat di dahi.
“Kami datang ke sini bukan cuma cari uang, tapi juga bangga bisa jadi bagian dari sejarah,” sambungnya sambal tersenyum lelah.
Baca Juga
Hidup di Barak
Barak-barak pekerja berdiri berderet di tepi lokasi proyek. Dari luar tampak sederhana, dinding tripleks, atap seng, dan pintu kayu seadanya.
Meski terlihat pengap, namun di dalamnya terdapat cerita tentang kebersamaan dan kekeluargaan.
Setiap kamar hanya berukuran sekitar 3x4 meter, dihuni oleh empat hingga enam orang. Tak mewah, hanya kasur lipat, kipas angin kecil, dan gantungan pakaian seadanya.
“Kalau malam, kami biasanya ngobrol sambil masak bareng,” ujar Samsul, tukang batu asal Lombok.