fin.co.id - Perusahaan tambang asal Amerika Serikat, Freeport-McMoRan Inc. (FCX), memastikan akan mempertahankan kepemilikan sahamnya sebesar 49% di PT Freeport Indonesia (PTFI) hingga tahun 2041.
Setelah periode tersebut, porsi kepemilikan FCX akan berkurang menjadi sekitar 37%, namun perjanjian tata kelola bersama dengan pemerintah Indonesia akan tetap berlanjut.
“FCX berencana untuk mempertahankan kepemilikan sahamnya sekitar 49% hingga tahun 2041 dan akan memiliki sekitar 37% kepemilikan saham setelah tahun 2041. Perjanjian tata kelola yang ada akan berlanjut selama umur sumber daya tersebut,” tulis FCX dalam laporan keuangan kuartal III 2025 yang dirilis Jumat 24 Oktober 2025.
Langkah ini menunjukkan komitmen FCX untuk terus mengelola operasi tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia bersama pemerintah, meski di sisi lain, Indonesia tengah berupaya menambah porsi saham melalui MIND ID.
Operasi Tambang Raksasa di Grasberg
Dalam laporan tersebut, Freeport menjelaskan bahwa PTFI saat ini mengoperasikan tiga tambang bawah tanah besar di kawasan mineral Grasberg, Papua, yaitu Grasberg Block Cave, DMLZ, dan Big Gossan.
Tambang-tambang ini merupakan bagian dari sistem produksi yang menghasilkan volume besar. Dalam kondisi operasi normal, PTFI mampu memproduksi hingga 1,7 miliar pon tembaga dan 1,4 juta ons emas per tahun, menjadikannya salah satu tambang dengan biaya operasional terendah di dunia.
Selain itu, PTFI juga terus melakukan eksplorasi lanjutan di bawah area DMLZ, untuk memperluas cadangan mineralisasi yang signifikan.
Namun, pada 8 September 2025, terjadi insiden semburan lumpur di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, yang membuat operasi sempat dihentikan sementara.
“Operasi telah dihentikan sementara dan peningkatan bertahap untuk memulihkan produksi sedang direncanakan,” ujar Presiden dan CEO FCX, Kathleen Quirk.
Baca Juga
Proyek Kucing Liar Jadi Andalan Baru Freeport
Selain fokus di Grasberg, Freeport juga tengah mengembangkan proyek jangka panjang di area Kucing Liar, yang diprediksi menjadi salah satu tambang paling produktif setelah 2029.
Menurut Quirk, deposit Kucing Liar diperkirakan akan menghasilkan lebih dari 7 miliar pon tembaga dan 6 juta ons emas selama periode 2029 hingga 2041.
Per 30 September 2025, PTFI sudah menggelontorkan investasi sekitar US$ 1 miliar untuk tahap awal proyek ini, dan total investasi akan mencapai US$ 4 miliar dalam tujuh hingga delapan tahun ke depan, atau rata-rata US$ 500 juta per tahun.