Pers: Pilar Keempat Demokrasi yang Terlupakan

fin.co.id - 24/10/2025, 20:06 WIB

Pers: Pilar Keempat Demokrasi yang Terlupakan

Erwin Syahputra

Manfaat Strategis, Risiko Demokratis

Tidak dapat disangkal bahwa jasa wartawan membantu meningkatkan visibilitas program pemerintah, membangun citra positif, dan memperkuat hubungan dengan masyarakat. Dalam konteks birokrasi yang kompleks dan masyarakat yang beragam, jasa ini menjadi alat penting untuk menyederhanakan pesan dan memperluas jangkauan informasi.

Namun, manfaat ini harus diimbangi dengan komitmen terhadap etika jurnalistik. Ketika wartawan atau media hanya menjadi corong pemerintah tanpa independensi, maka yang terjadi bukan komunikasi, melainkan dominasi narasi. Demokrasi yang sehat membutuhkan media yang tidak hanya menyampaikan, tetapi juga mengkritisi.

Jalan Tengah: Profesionalisme dan Akuntabilitas

Solusinya bukan menolak jasa wartawan untuk negara, melainkan menata ulang relasi antara media dan pemerintah. Jasa informasi publik harus dijalankan oleh wartawan yang menjunjung tinggi integritas, bukan sekadar memenuhi pesanan. Pemerintah pun harus membuka ruang bagi media untuk bertanya, mengkritik, dan menyampaikan suara masyarakat.

Transparansi dalam penggunaan anggaran media, keterlibatan jurnalis independen, dan publikasi yang berbasis data adalah langkah-langkah konkret untuk memastikan bahwa jasa wartawan tidak menjadi alat kekuasaan, melainkan mitra demokrasi.

Jejak Sejarah: M. Tabrani dan Peran Transformasional Pers

Sejarah Indonesia membuktikan bahwa pers bukan hanya pencatat peristiwa, tetapi juga penggagas perubahan. M. Tabrani, seorang jurnalis visioner yang kini diakui sebagai Pahlawan Nasional, adalah tokoh yang mengusulkan istilah "Bahasa Indonesia" sebagai bahasa persatuan. Ia menolak istilah "bahasa Melayu" demi menghindari kesukuan dan memperkuat identitas nasional.

Gagasan ini ia suarakan lewat media massa, jauh sebelum Sumpah Pemuda 1928. Ini bukan sekadar kontribusi jurnalistik—ini adalah bukti bahwa pers mampu menciptakan sejarah, bukan hanya melaporkannya.

Tantangan Pers di Era Digital

Di era digital, tantangan yang dihadapi pers semakin kompleks:

  • - Banjir Informasi dan Hoaks: Wartawan kini harus menjadi verifikator di tengah tsunami informasi palsu.
  • - Isu SARA dan Polarisasi: Media harus menjaga keutuhan bangsa dari retakan identitas.
  • - Tekanan Ekonomi dan Algoritma: Independensi pers terancam oleh model bisnis yang mengutamakan klik daripada kualitas.
  • - Intervensi Politik: Media yang seharusnya netral sering kali terjebak dalam pusaran kepentingan elite.

Namun, tantangan terbesar tetap sama: menjaga integritas dan keberanian untuk berdiri di sisi kebenaran, meski berisiko.

Kesimpulan: Demokrasi Butuh Pers yang Merdeka

Demokrasi yang sehat tidak bisa hidup tanpa pers yang bebas. Wartawan bukan musuh negara, melainkan mitra kritis yang membantu membangun bangsa. Menghormati dan melindungi kebebasan pers bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga investasi politik untuk masa depan Indonesia.

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Penulis FIN.CO.ID