Hilirisasi: Saatnya Pertamina Ngebut, Bukan Santai Lagi!

fin.co.id - 23/07/2025, 15:08 WIB

Hilirisasi: Saatnya Pertamina Ngebut, Bukan Santai Lagi!

Zuli Hendriyanto Syahrin. Foto: Dok Pribadi

Ini kenyataan yang bikin sedih. Kita masih sangat tergantung sama energi fosil. Data Kementerian ESDM 2023 nunjukkin sekitar 88% pasokan energi primer masih dari minyak bumi, gas, dan batu bara. Padahal, potensi energi baru dan terbarukan (EBT) kita itu banyak sekali, kayak panas bumi (28 GW, terbesar kedua di dunia), surya (207 GW), dan hidro, tapi belum digarap optimal.

Kontribusi EBT dalam bauran energi nasional masih di bawah 15%, jauh sekali dari target 23% di 2025. Pemanfaatan panas bumi sampai 2023 baru sekitar 2,4 GW, atau kurang dari 10% dari total potensi. Kapasitas terpasang PLTS juga masih minim sekali. Proyek-proyek EBT Pertamina emang ada, kayak PLTP Kamojang atau Ulubelu, tapi skalanya masih terkesan "tambal sulam".

Yang lebih membebani, subsidi energi fosil masih jadi beban APBN yang besar. Tahun 2022 saja mencapai Rp 551 triliun, setara 20% dari total APBN. Ini nunjukkin tingginya ketergantungan pada energi konvensional dan kegagalan diversifikasi yang efektif. Ini adalah pemborosan yang gak bertanggung jawab.

Apa Pertamina beneran serius sama transisi energi, atau ini cuma sekadar "greenwashing" dan usaha minimalis? Kenapa kita masih ketinggalan jauh dari negara lain kayak Vietnam atau Filipina dalam pengembangan EBT? Cara pikir yang masih terlalu "minyak dan gas" harus segera dirombak total dan diganti dengan visi "energi masa depan yang bersih dan berkelanjutan" yang progresif dan berani.

Udah saatnya Pertamina gak cuma fokus ke ngambil dan ngolah energi fosil, tapi juga jadi Pemimpin inovasi dan Penyedia solusi energi bersih yang komprehensif di Asia Tenggara. Kegagalan ini nunjukkin kurangnya keberanian dan rasa mendesak dari para pengambil keputusan. Ini ngegugurin amanah bangsa.

Biar energi kita cerah membara, ini solusinya:

a. Diversifikasi portofolio EBT skala besar yang revolusioner: Pertamina harus kembangin proyek EBT skala gigaton, bukan cuma megawatt, dengan target berani yang bisa ngegeser dominasi fosil secara signifikan dalam 10-15 tahun ke depan.

b. Panas Bumi paling depan: Panas bumi harus jadi ujung tombak. Alokasiin anggaran R&D dan investasi yang setara atau bahkan lebih besar dibanding proyek migas terbesar, dengan roadmap yang jelas. Bentuk Dana Transisi Energi Nasional.

c. Pengembangan infrastruktur EBT terintegrasi, cerdas, dan tahan banting: Bangun infrastruktur pendukung EBT secara komprehensif, termasuk smart grid, fasilitas penyimpanan energi (BESS), serta infrastruktur pengisian kendaraan listrik massal.

d. Pelopor smart grid: Pertamina harus jadi pelopor dalam ekosistem smart grid nasional, dan ngembangin infrastruktur Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS).

e. Riset dan pengembangan inovasi agresif, kolaboratif, dan berorientasi komersial tanpa henti: Investasiin dana puluhan triliun Rupiah tiap tahun buat R&D di bidang EBT dan teknologi energi bersih. Gandeng Universitas Top Dunia dan startup inovatif. Pertamina harus punya pusat riset dan inovasi bertaraf internasional yang jadi rujukan global.

3. Tata Kelola dan Kinerja Keuangan: Transparansi Itu Kunci Kepercayaan Publik dan Bisnis yang Gak Ada Matinya

Ini kenyataan yang harus diakui. Pertamina, sebagai BUMN, sering disorot soal efisiensi operasional, proses pengadaan barang dan jasa, serta akuntabilitas. Meskipun nyatetin keuntungan cukup baik, efisiensi dan transparansi masih jadi PR besar dan penting.

Mihardi
Mihardi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID