Kesehatan . 20/07/2025, 22:09 WIB
Sumber utama paparan BPA berasal dari penggunaan galon air minum isi ulang yang terbuat dari plastik polikarbonat. Meskipun BPA diklaim terikat kuat dalam struktur plastik, penelitian membuktikan bahwa senyawa ini dapat larut ke dalam air, terutama saat galon terpapar sinar matahari, panas, atau goresan akibat pemakaian berulang.
“Risiko akumulasi BPA menjadi signifikan mengingat lansia biasanya mengonsumsi air dalam jumlah besar setiap hari,” jelas Prof. Antonius.
Merespons temuan ini, para ahli menyerukan langkah konkret dari pemerintah dan industri. Ketua Yayasan Konsumen Sehat Indonesia (YKSI), Dr. Siti Nurhasanah, mendesak agar regulasi terhadap BPA diperketat dan produk yang mengandung BPA diberi label yang jelas.
“Edukasi publik tentang bahaya BPA dan pentingnya memilih kemasan alternatif yang lebih aman sangat diperlukan, terutama untuk keluarga yang memiliki anggota lansia,” tegasnya.
Dengan semakin tingginya ketergantungan masyarakat terhadap air minum kemasan, terutama galon isi ulang, penting bagi konsumen untuk memahami potensi risiko BPA. Kelompok lansia, sebagai bagian masyarakat yang paling rentan, harus mendapat perlindungan lebih dalam kebijakan kesehatan dan kemasan pangan. (Hasyim Ashari)
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id