Oleh: Amelia Fitriani ( Postgraduate Student in Business & Communication Management LSPR Institute)
“Kita harus bergandengan tangan. Merobohkan batas-batas primordial kesukuan, golongan, ras dan agama.”
Begitu kutipan puisi karya penulis ternama, Ahmad Gaus yang ikut saya bacakan bersama sang penulisnya serta aktivis keberagaman, Mila Muzakkar di acara penutupan workshop Esoterika Fellowship Program yang digelar di Jakarta pada Rabu (23 April 2025).
Fragmen puisi itu menyentuh hati saya karena mewakili ruh besar dari Esoterika itu sendiri yang mendorong semangat kebersamaan sebagai sesama homo sapiens, dengan memaknai lebih dalam agama sebagai warisan kultural milik bersama serta mengamini nilai-nilai spiritual yang universal.
Pada kegiatan tersebut, saya menempatkan diri sebagai seorang pembelajar yang haus akan pengetahuan dan pandangan mengenai nilai-nilai universal dari spiritualitas, yang bisa merobohkan batasan agama. Saya sendiri mengamini ruh dan semangat yang dibawa oleh Esoterika Forum Spiritualitas, sebuah gerakan yang digagas oleh Denny JA.
Baca Juga
Di tengah kegiatan kemarin, saya teringat pada pengalaman 10 tahun lalu yang membekas dan mempengaruhi cara pandang saya akan konsep spiritualitas dan agama.
**
Saat itu pertengahan November 2015. Hujan turun rintik-rintik. Tidak ada tanda-tanda kapan berhenti. Ini tidak mengherankan, karena saya tengah berada di Bogotá, Kolombia, salah satu ibu kota tertinggi di dunia. Hujan rintik disertai embusan angin yang menusuk tulang bukanlah sesuatu yang baru di kota, yang terletak pada ketinggian sekitar 2.640 meter di atas permukaan laut ini. November memang masih terhitung musim hujan.
Saya merapikan bufanda, semacam syal rajut tebal, yang melingkari leher untuk menutup semua celah yang bisa disusupi angin. Angin memang kerap hadir menyertai rintik hujan. Napasku tersengal-sengal sesudah berjalan lebih dari satu jam mengelilingi beberapa tempat bersejarah dan museum di kawasan Plaza de Bolívar, yang terletak tepat di jantung Bogota.