“Dan justru di era AI ini, kita perlu mengingat kembali bahwa sastra lahir dari pengalaman manusia, dari perasaan yang tak bisa sepenuhnya direplikasi oleh kecerdasan buatan.”
Melalui tangan-tangan para pengurus, program ini dikelola oleh Jonminofri sebagai Ketua Harian, Satrio Arismunandar sebagai Sekjen, dan Aji Sulaeman sebagai Bendahara.
Mereka memastikan bahwa Satupena tetap menjadi cahaya yang menerangi dunia kepenulisan Indonesia, dari Aceh hingga Papua.
Pada akhirnya, perayaan ini bukan sekadar penghormatan kepada masa lalu, tetapi juga komitmen untuk masa depan.
“Seorang penulis boleh tiada, tetapi kata-katanya akan terus mengembara.”
Mereka yang kita kenang hari ini akan hidup dalam memori kita, dalam perayaan kita, dalam kesadaran kita bahwa sastra dan karya non-fiksi adalah api yang terus menyala.*