"Total anggota di Tangerang mungkin sekitar 200-an. Ya karena kemarin kita lagi lomba aja itu sudah hampir 200," kata Harrys.
Tak hanya untuk berkegiatan, Harrys mengatakan jemparingan juga kerap kali dilombakan, mulai dari tingkat kota hingga internasional.
Harrys menuturkan, komunitasnya kerap mendapatkan juara, salah satunya mendapatkan juara 4 tingkat internasional yang diselenggarakan di Surabaya.
"Alhamdulillah kita sempat meraih juara. Kalau untuk di luar kota, di Bandung, di Tasikmalaya," kaya Harrys.
"Di tingkat internasional kita pernah di Surabaya, kita ada di posisi 4 besar. Dan di Bali, kita dapat juara satu. Yang paling sering itu adalah di Jogja," tambahnya.
Selain untuk berolahraga, Harrys menilai jemparingan juga berguna untuk mengasah kedisiplinan dan kesabaran.
Dalam jemparingan juga kata Harrys, terdapat filosofi yang mengajarkan seseorang untuk tidak putus asa dan pantang menyerah.
"Jemparingan mengajarkan kita untuk tidak putus asa dan pantang menyerah, saat anak panah tidak mengenai sasaran sesuai keinginan kita, jemparingan juga mengajarkan kita hidup disiplin dan membentuk kesabaran," ungkapnya.
Dia pun berharap, agar permainan tradisional seperti jemparingan bisa tetap lestari dan diminati anak-anak muda.
"Saya harap permainan tradisional masih lestari, dan terus digandrungi anak-anak muda," harapnya.
Baca Juga
Jemparingan dan Filosofi Kehidupan
Gemercik aliran Sungai Cisadane di Tangerang, serta di bawah rimbunnya pohon beringin, tersimpan sebuah warisan budaya yang memiliki sarat makna dan keindahan. Jemparingan.
Olahraga panahan itu bukan hanya sekadar membidik dan melepaskan anak panah. Melainkan sebuah filosofi yang menyelaraskan manusia dengan busur, jiwa dan raga, serta tradisi di masa kini.
"Iya, jadi bukan hanya sekadar memanah. Tetapi Jemparingan juga kental dengan filosofinya," ungkap Harrys Yasin Yudhanegara pendiri komunitas Tangger.
Beda dengan Panahan modern. Jemparingan, adalah olahraga memanah tradisional yang dilakukan sambil duduk bersila.