Gadget Tingkatkan Risiko Alzheimer, Ini Penjelasan Ahli

fin.co.id - 22/09/2024, 13:03 WIB

Gadget Tingkatkan Risiko Alzheimer, Ini Penjelasan Ahli

Ilustrasi anak kecanduan gadget (gawai).

fin.co.id   - Gawai atau gadget saat ini sudah menjadi barang wajib bagi anak muda.

Sayangnya, tak banyak yang mengetahui bahwa gadget dapat meningkatkan risiko demensia alzheimer.

Hal inilah yang perlu diwaspadai oleh para anak muda agar tidak terlalu banyak terpapar gadget.

Dokter spesialis neurologi Prof. Dr. dr. Yuda Turana, SpN menjelaskan bahwa hal ini termasuk faktor risiko modifiable atau yang dapat 

dimodifikasi.

Pada anak muda yang chronically online atau menghabiskan banyak waktu berselancar internet di gadget, tak jarang menggunakan penyuara telinga dengan volume tinggi.

"(Faktor risiko) ada gangguan pendengaran, sulit konsentrasi, karena gadget itu dipegang oleh anak muda, pakai headset, kemudian seringkali banyak mobilitas tinggi, di tempat keramaian, konsekuensinya volume dinaikin. Jangka panjang, itu gangguan pendengaran," ungkap Yuda ketika ditemui di Semanggi, Jakarta, 20 September 2024.

Gangguan pendengaran ini, kata Yuda, bahkan berisiko lebih besar dibanding diabetes atau hipertensi.

"Gangguan pendengaran itu, mungkin yang harus diaware, itu faktor risiko yang bahkan dari data itu lebih besar dari diabetes dan hipertensi. Awareness harus ditingkatkan," tandasnya.

Begitu pula dengan gangguan penglihatan yang salah satunya diakibatkan oleh paparan layar gadget.

"Jadi kalau saya bicara tentang penglihatan, pendengaran, kayaknya masuk di era gadget sekarang di mana paparan dari gadget itu banyak di mata, kemudian dari suara juga problem," tambahnya.

Selain itu, pola hidup anak muda zaman sekarang juga terpengaruh sehingga kurang bergerak.

Bukan hanya gadget, kebiasaan-kebiasaan tidak sehat juga bisa meningkatkan risiko alzheimer, seperti merokok dan minum minuman beralkohol.

Kesehatan mental pun perlu menjadi perhatian karena turut berdampak pada kognitif seseorang.

Terlebih, hal ini menjadi isu yang banyak terjadi pada remaja dan dewasa muda.

"Pola hidup sekarang, jelas generasi sekarang kelihatannya mobilitas lebih rendah. Dengan faktor risiko lingkungan yang lebih besar kemudian stress lebih besar, kemudian kita masuk pada era covid, yang masih belum kita harus ikutin seberapa jauh nih gangguan kognitifnya. Jadi itu problemnya," beber Yuda.

Khanif Lutfi
Penulis