News . 11/06/2024, 09:41 WIB
FIN.CO.ID – Tanah Air terkenal kaya akan rempah-rempah nusantara. Salah satunya rempah Andaliman atau bernama
latin zanthoxylum acanthopodium yang merupakan rempah khas Danau Toba,
Sumatera Utara. Rempah yang memiliki rasa pedas, getir, panas, mentol, dan
aroma harum seperti bau jeruk ini dapat diolah menjadi bumbu masak serta dapat
pula dibuat keripik, bandrek, dan berbagai makanan-minuman lainnya.
Marandus Sirait,
salah satu pelaku usaha rempah Andaliman di Desa Sionggang Utara, Kecamatan
Lumban Julu, Kabupaten Toba, Sumatera Utara menjadi yang pertama kali
membudidayakan Andaliman di Lumban Julu. Inisiatifnya tersebut menginspirasi
masyarakat sekitarnya turut serta membuat usaha yang sama.
Sirait memulai
usaha andaliman pada 2017 dengan nama UMKM CV Andaliman Mangintir dengan membudidayakan
dan menjual rempah Andaliman, baik yang masih segar maupun dalam kemasan, serta
produk-produk turunannya ke dalam dan luar negeri.
Usaha Andaliman
Sirait memiliki modal awal sebesar Rp50 juta. Modal tersebut dipakai untuk
membeli bibit, alat-alat produksi, menyewa lahan untuk menanam, dan kebutuhan
lainnya. Andaliman sendiri, kata Sirait,
membutuhkan waktu 1 tahun untuk tumbuh. Masa panennya dimulai di bulan Maret
hingga Juni. Selepas bulan tersebut, produksi Andaliman akan terus berkurang.
“Saat stok Andaliman
sedang normal, eceran Andaliman memiliki harga paling murah Rp15.000 per
kilogram. Namun, ketika stok sedang sedikit, harga Andaliman bisa mencapai
Rp250.000 sampai Rp300.000 per kilogram,” ujarnya. Ia pun dapat meraup omzetnya
sekitar Rp20 juta tiap bulannya.
Berkat keunikan
dan kekhasan rempah tersebut, UMKM-nya juga pernah mengikuti pameran makanan di
luar negeri, yakni di Swiss, Spanyol, dan Polandia. Kendati usahanya berjalan
mulus, namun pada 2020 ketika pandemi Covid-19 ia menemui sebuah tantangan.
“Saat pandemi
Covid 19, tidak ada pasar sama sekali sementara tanaman kami lagi panen raya,
jadinya banyak Andaliman yang mati. Itulah masa anjloknya Andaliman dan
kelompok tani Andaliman,” terangnya.
Peristiwa tersebut
yang menjadi titik awal kerja sama antara usahanya dengan PT Bank Rakyat
Indonesia (Persero) Tbk. Ketika masa sulit, BRI hadir membantu memberi modal
usaha dan kebutuhan untuk produksi seperti: angkong, alat pelindung diri (APD),
serta bibit andaliman.
Demi mengangkat
kembali citra Andaliman yang terbenam saat masa pandemi, BRI pun mengajak kerja
sama pengusaha andaliman untuk ikut dalam program Beli Kreatif Danau Toba 2021.
Selepas itu, BRI juga terus mengajak pengusaha andaliman untuk membuka stan
jualan di ragam acara mereka di berbagai daerah agar produk andaliman semakin
meluas namanya.
“BRI sangat
membantu masyarakat. Karena usaha tanpa ada modal, ya repot juga apalagi di
masa krisis seperti dahulu. Kami sangat tertolong banyak dalam usaha UMKM ini.
Prosesnya juga tidak ribet,” sebutnya.
Pada kesempatan
terpisah, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan bahwa BRI bersama
pemerintah memiliki komitmen untuk mendorong para nasabah KUR naik kelas. Ia mengungkapkan
mayoritas KUR BRI disalurkan kepada sektor produksi, dengan proporsi mencapai
55,95%. “Secara umum, strategi bisnis mikro BRI di tahun 2024 akan fokus pada
pemberdayaan berada di depan pembiayaan. BRI sebagai bank yang berkomitmen
kepada UMKM telah memiliki kerangka pemberdayaan yang dimulai dari fase dasar,
integrasi, hingga interkoneksi," kata Supari.
BRI optimistis
dapat memenuhi penyaluran KUR untuk tahun ini senilai Rp165 triliun pada bulan
September 2024. hal tersebut dapat tercapai dengan adanya percepatan graduasi
atau upaya untuk membuat nasabah eksisting naik kelas. Di sisi lain, penyaluran
KUR juga didorong dengan perluasan jangkauan penerima baru.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id