IN.CO.ID - Tingkat stunting sebagai dampak kurang gizi
pada balita di Indonesia masih menjadi ancaman. Stunting adalah kondisi ketika
balita memiliki tinggi badan dibawah rata-rata. Hal ini diakibatkan asupan gizi
yang diberikan, dalam waktu yang panjang, tidak sesuai dengan kebutuhan.
Stunting berpotensi memperlambat perkembangan otak, dengan dampak jangka
panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko
serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas.
Merespon masalah stunting ini, Pemerintah
Kota Bandung menyadari pentingnya penanganan masalah tersebut sejak dini. Oleh
karena itu, mulai bulan Juni ini, mereka akan mengintervensi calon pengantin
sebagai langkah awal pencegahan stunting. Pendekatan ini diharapkan bisa
memberikan dampak yang signifikan dalam mengurangi angka stunting di kota ini.Baca Juga
“Kita mulai bulan Juni, berfokus pada
pendekatan pencegahan terjadinya stunting baru, tanpa mengurangi intervensi
pada anak stunting. Kita mengarahkan berbagai intervensi kebijakan pada hal-hal
yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk mempercepat penurunan stunting ” ungkap
Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Kota Bandung, Hikmat Ginanjar.
Hikmat menjelaskan bahwa kegiatan ini
melibatkan semua pihak dalam upaya kolaboratif pentahelix untuk mempercepat
penurunan dan cegah stunting sejak dini.
“Saya berharap dengan adanya kegiatan ini
dapat mendorong untuk memperkuat komitmen dan bergerak bersama dalam upaya
percepatan penurunan stunting di Kota Bandung,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pengendalian
Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Bandung, Kenny Dewi Kaniasari,
mengungkapkan bahwa intervensi serentak pencegahan stunting pada bulan Juni
2024 akan difokuskan pada calon pengantin, ibu hamil, dan balita.
“Pendataan,
pengukuran hingga penimbangan, sebagai tindaklanjut dan edukasi calon
pengantin, ibu hamil, dan balita dilakukan secara berkelanjutan, rencana
intervensi akan dilaksanakan bulan Juni 2024,” tuturnya.
Kegiatan
ini bertujuan untuk deteksi dini pencegahan stunting, pengukuran gizi, edukasi
bagi semua sasaran, serta meningkatkan kunjungan ke Posyandu. Kenny menegaskan
perlunya dukungan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk keberhasilan
kegiatan ini.
Selain
itu, akan ada pemantauan oleh Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di
tingkat kecamatan dan kelurahan. Kota Bandung sendiri memang menargetkan
penurunan angka prevalensi stunting menjadi 14 persen pada tahun 2024 ini.
“OPD terkait untuk mendukung percepatan
penutuan stunting sebagai pelaksaan intevensi serentak mulai bulan ini. TPPS
Kota Bandung, akan melaksanakan pemantauan intervensi kepada TPPS tingkat
kecamatan dan kelurahan hingga pendamping keluarga sebagai dukungan kegiatan
tersebut yang jumlahnya sekitar 5.000 orang,” pungkasnya.