News

Mengalir Jauh

fin.co.id - 27/05/2024, 06:00 WIB

Ilustrasi teror pada Kejagung saat menangani kasus korupsi PT Timah.--

Amat K.

Sebagai pemerhati pendidikan (wkwkwkwkwk), saya pikir pembentukan karakter ini menjadi kelemahan sistem pembelajaran daring. Apakah bisa? Mungkin saja bisa, tapi agak sulit. Itu problem yang dihadapi kawan-kawan saya yang guru ketika pandemi kemarin. Dalam definisi mereka mengajar berbeda dengan mendidik. Mengajar diartikan sebagai proses transer pengetahuan atau keterampilan. Sedangkan mendidik berarti lebih luas: membentuk karakter, memberikan arahan, menanamkan nilai-nilai positif, juga keterampilan sosial. Belajar dari yutub, bisa. Tapi, yutub hanya bisa memberikan informasi dengan videonya. Hanyar seorang guru/mahaguru yang bisa mengajar dan mendidik dengan teladan. Dalam hal ini, pembelajaran daring tidak tepat untuk usia sekolah sebab syangat syulit dalam pelaksanaannya. Faktor perkembangan perkembangan kognitif, afektif, psikomotorik, serta sosio-kultural anak sangat cocok dilakukan dengan pembelajaran tatap muka. Berbeda dengan itu, dalam pendidikan tinggi saya mendukung pembelajaran daring sebagai alternatif media pendidikan dengan beberapa catatan yang menjadi perhatian saya. Saya sangat menyayangkan ketika melihat kawan yang lagi belajar daring, ada sambil rebahan, memasak, menyetir, joging, dll. Ini soal sikap, kembali lagi pada pribadi masing-masing bagaimana memberi respek pada dosen dan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, pengaturan penguasaan kelas daring menjadi keterampilan yang perlu dimiliki pengajar.

Mirza Mirwan

UKT 2024/2025 memang lebih mahal ketimbang tahun 2023/2024. Tetapi, menurut saya, masih wajar. Pun masih lebih murah ketimbang "single tuition fee" (UKT) di Filippina, Malaysia, dan Thailand, apalagi Singapura. Pun ada subsidi 25%, 50%, dan 75%, bahkan 100% alias tanpa UKT. Saya ambilkan contoh UKT di UGM untuk Prodi Hukum, Ilmu Komunikasi, Manajemen dan Kebijakan Publik, serta Hubungan Internasional. UKT-nya Rp9.200.000/semester. * subdidi 25% : Rp6.900.000. * subsidi 50% : Rp4.600.000. * subsidi 75% : Rp2.300.000. * subsidi 100%: tanpa bayar. Bagaimana menentukan besaran subsidi, tentu saja berdasarkan kemampuan ekonomi orsng tua atau wali mahasiswa. Dalam kata-kata Mas Menteri Nadiem "yang mampu membayar lebih mahal". Dan itu sebenarnya hanya mengulang istilah "subsidi silang" saat awal penerapan UKT beberapa tahun yang lalu. Kuliah online? Bagi yang punya "passion" menjadi "enterpreneur" memang lebih baik mengikuti kuliah online. Eh, tapi kalau nanti semua jadi pengusaha lantas siapa yang jadi karyawannya?

ikhwan guru sejarah

Menurut saya Abah terlalu menyederhanakan masalah. Kasus UKT itu berkaitan dengan hak warga negara dan pemerataan pendidikan untuk semua warga negara. Bukan soal kuliah bisa online, bisa UT, atau pernyataan semacam “gak kuliah saja bisa jadi pengusaha sukses”. Itu romantisme heroik, bahasa motivator, bukan jawaban atas permasalahan akses pendidikan bagi semua orang. Pada kenyataannya kualitas PTN memang relatif lebih bagus, lulusan lebih bagus, fasilitas bagus. Sehingga banyak anak SMA mimpi mendapatkan pendidikan bagus, dan tentu saja terjangkau oleh ortu mrk. Anak tinggal berusaha sekeras-kerasnya untuk bisa lolos saringan masuk, kuliah dengan benar, dan kelak bekerja dengan benar. Secara tidak langsung akan mendorong kemajuan. Ingat bagaimana Tiongkok maju, ya krn pendidikan. Kalau ada jawaban pejabat bhw kuliah itu tersier, ya itu kebangetan banget, dan menggambarkan betapa tidak pedulinya kepada kemudahan akses pendidikan bagi semua .

Lagarenze 1301

Starlink yang kemarin sore terpasang di pulau milik teman di Teluk Lampung dibuat oleh perusahaannya Mas Elon. Mas Elon pernah kuliah? Pernah. Dua tahun kuliah perdagangan di Queen's School of Business, lalu meraih gelar sarjana ekonomi dan fisika di Wharton School of the University of Pennsylvania. Sempat lanjut studi PhD Fisika di Universitas Stanford, namun ia hanya 2 hari kuliah dan memilih fokus ke bisnisnya. Saat di berada di pulau, sore kemarin, begitu melihat kotak persegi bertuliskan Starlink diturunkan dari kapal dan dibawa melalui dermaga, yang terbayang adalah wajah Mas Elon. Sinyal operator telepon seluler muncul-hilang di pulau. Pengunjung pulau wisata itu mengeluh: tidak bisa live TikTok atau update Instagram dari spot yang instagramable. Begitu Starlink masuk Indonesia, teman tadi bergerak cepat. Dia dapat dua unit Starlink yang harga perangkatnya masih diskon 40 persen jadi Rp 4,6 juta. Karena alat itu stationer di pulau, ia pilih paket Rp 750 ribu sebulan. Instalasi begitu sederhana. Tak perlu teknisi. Bisa pasang sendiri. Berapa kecepatan akses di pulau? Lebih dari 250 Mbps. Sangat kencang. Yang menjadi persoalan sekarang bagaimana membagi sinyal Starlink menjadi hotspot agar pengunjung pulau bisa ikut menggunakannya, dan yang penting tidak sampai kena banned dari Starlink. Sepertinya perlu perangkat lagi. Mas Elon kini hadir di pulau yang nyaris tanpa sinyal operator telekomunikasi nasional itu.*

HANVINCY ADNOV

Selama Hardvard, Stanford, Massachusetts Institute of Technology, Oxford, dll masih berdiri dan dibanjiri mahasiswa China Selama ilmu tekhnik, kedokteran, geology, pertambangan, kedokteran, dll selain rumpun disiplin ilmu sosial masih menggunakan peralatan praktik yang harganya sangat mahal dan adanya di Universitas Selama Jerman masih menjadi jawara untuk melahirkan sarjana tekhnik dan masih menggratiskan kuliah bagi rakyatnya MAKA UNIVERSITAS MASIH SANGAT PENTING UNTUK MEMAJUKAN PERADABAN SUATU BANGSA.

Amat K.

Selamat pagi Om Otong. Kita yang kuliah di universitas kehidupan ini pun berat biaya

m note

urun rembug, kebetulan sy juga bekerja di universitas dan ikut handle penerimaan maba. soal kenapa minat masuk kuliah konvensional masih tinggi mungkin ada bbrp hal. 1. buat kerja. rata-rata lulusan sma sederajat di negeri kita belum siap kerja kecuali karena terpaksa, seperti tidak punya biaya kuliah misalnya. rata-rata lho ya, tentu ada beberapa pengecualian di lapangan. selain itu mayoritas lapangan kerja di sini juga mensyaratkan pendidikan minimal. ada yg menerima lulusan sma sederajat atau di bawahnya tapi biasanya terbatas untuk formasi cleaning service dan security. lainnya, sarjana tentu saja. 2. soal belajar online / mandiri. meski lebih murah, tantangan terbesarnya ada di masing-masing individu. tanpa lingkungan yg terkondisikan seperti di perkuliahan akan berat sekali. belum lagi dengan pandangan tetangga kanan kiri, lulus sma koq gak kerja gak kuliah. itu bodoh, males apa gimana? 3. soal ukt mahal. sebenarnya konsep ukt itu subsidi silang. artinya yg memang secara perekonomian dianggap mampu akan mendapatkan grade ukt yang lebih tinggi untuk mensubsidi mereka yg dapat ukt rendah karena secara perekonomian dianggap kurang mampu. masalahnya penilaian kemampuan ini didasarkan pada berkas2 seperti slip gaji, jumlah tanggungan keluarga, foto rumah, data aset dll yg semuanya sangat mudah dipalsu.

Lagarenze 1301

Ari Nur Cahyo
Penulis
-->