
Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan (Zulhas) beserta rombongan tiba di Kantor DPP PDI Perjuangan.-ANTARA/Melalusa Susthira K)-
Zulhas juga menceritakan pengalamannya mengunjungi sejumlah daerah di tanah air jelang Pilpres. Dia mengatakan, ada sikap yang aneh di tengah masyarakat akhir-akhir, khususnya umat Islam saat melakukan salat.
"Saya keliling daerah, Pak Kiai. Sini aman, Jakarta nggak ada masalah, yang jauh-jauh ada lho yang berubah. Jadi kalau salat Maghrib baca, 'waladholin... ', Al-Fatihah baca 'waladholin..' Ada yang diem sekarang, pak. Lho kok lain," ujar Zulhas.
"Ada yang diem sekarang banyak, saking cintanya sama Pak Prabowo itu," imbuhnya.
Tidak hanya itu, Zulhas juga bilang, saat salat, masyarakat juga tidak mau menunjuk dengan jari telunjuk saat duduk tahiyat awal dan akhir. Sebab menurutnya tahiyat dengan jari telunjuk menunjukan nomor urut 1 yakni pasangan Amin.
Dia bilang bahwa masyarakat memilih tahiyat pakai dua jari.
"Itu kalo tahiyatul akhir kan gini (melipat empat jari dan membiarkan satu jari telunjuk) pak, sekarang kaya gini (menunjukkan gesture dua jari teracung), sekarang maunya pak gitu, saking (cintanya sama Prabowo)," ujar dia lagi.
BACA JUGA:
- Gak Jadi Netral, Jusuf Kalla Nyatakan Dukung Anies-Muhaimin, Ini Alasannya...
- Dilarang Baperan, Timnas AMIN: Anies Singgung Etik Bukan Personal, Tapi untuk Tatanan Bernegara
Zulhas Dianggap Menistakan Agama:
DPP Jaringan Nasional Keumatan (JNK) menilai, apa yang disampaikan Zulhas telah melecehkan agama Islam.
Ketua Umum DPP JNK Nanang Firdaus Masduki mendesak Zulhas harus minta maaf atas ucapannya tersebut.
"Apa yang terjadi dalam video yang diperankan oleh Zulhas itu harus dihentikan. Zulhas juga harus meminta maaf kepada umat Islam karena telah menodai sakralitas ibadah salat," ujar Nanang dalam pernyataan resminya, Selasa 19 Desember 2023.
Selain itu, kata dia, DPP JNK juga mengimbau kepada semua tokoh dalam musim politik ini tidak menarik-narik unsur agama menjadi konsumsi politik yang provokatif.
Tujuannya agar tidak menyulut berkembangnya politik identitas di level masyarakat.