"Meskipun Prabowo dan Gerindra kalah dalam Pemilu 2019, tetapi Jokowi berdamai dan mengajak masuk menjadi bagian dari pemerintah," lanjut Achmad.
Upaya Jokowi untuk menggabungkan dua kekuatan dalam Pemilu 2024 berujung buntu. PDIP lebih memilih ngotot mengajukan Ganjar Pranowo sebagai capres alih-alih menjadi cawapres pendamping Prabowo yang didukung kuat oleh Jokowi.
Perpecahan pun tak terhindarkan, di mana Jokowi yang sebelumnya selalu diusung oleh PDIP tampak lebih berat mendukung Prabowo.
"Satu per satu anggota keluarga Jokowi memilih dipecat atau bergabung dengan partai lain demi memenangkan Prabowo-Gibran," ujar Achmad.
Selain Gerindra, pasangan Prabowo-Gibran didukung oleh banyak partai di Senayan maupun non-parlemen. Golkar masih mempertahankan peringkat ketiga dengan elektabilitas 8,7 persen, lalu ada Demokrat (6,5 persen), PSI (6,4 persen), dan PAN (3,4 persen). Berikutnya ada Gelora (1,1 persen), PBB (0,6 persen), dan Garuda (0,1 persen).
"Sedangkan pasangan Ganjar-Mahfud, selain PDIP hanya didukung oleh PPP (2,4 persen), Perindo (1,6 persen), dan Hanura (0,1 persen). Pasangan Anies-Muhaimin didukung oleh PKB (7,0 persen), PKS (4,3 persen), Nasdem (2,7 persen), dan Ummat (0,3 persen),” papar Achmad.
Dua partai baru memilih abstain soal dukungan terhadap capres-cawapres, yaitu PKN dan Buruh, sama-sama nihil elektabilitasnya.