"Ia juga mengaku bahwa dia adalah seorang perempuan. Saya menangis, shock dan kaget. Lalu kami berantem hebat. Saya dipukuli dan diancam mau dibunuh. Dia juga meminta saya untuk mengurus abu orang tuanya serta 3 orang anak angkatnya," paparnya.

Viral Suamiku Ternyata Seorang Perempuan-Foto-SC-@yolayola11063 @NyooSusanti88-X Twitter
Dalam kondisi ketakutan, Ida Susanti pun menyerah. Dia membuat kesepakatan berapa lama harus menemani Nardinata Marshioni Suhaimi. Selain itu, dia minta diceraikan apabila sudah tidak kuat.
"Karena saya perempuan normal bukan lesbian. Saya tidak bisa hidup seperti ini. Dia pun akhirnya menyepakati bahwa akan memenuhi setiap kebutuhan saya dan membelikan saya rumah untuk ditinggali," urainya.
Ternyata benar. Setelah 3 bulan menikah, Ida Susanti dibelikan rumah yang berada di kawasan Pakuwon City, Surabaya.
Dia pun membuka usaha toko spare part mobil Eropa Mercedez Benz karena punya pengalaman 15 tahun kerja di bengkel Mercy.
Beberapa bulan kemudian, datang perempuan bernama Emiliana yang ternyata juga istri dari suaminya. Dia tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur.
"Dia datang merampas mobil-mobil dan baju-baju milik Nardinata. Karena takut saya menelepon Nardinata untuk menanyakan hal ini. Namun, akhirnya saya menyadari perempuan ini memang disuruh oleh Nardinata," kenang Ida Susanti.
Sejak saat itu, Ida Susanti dan Nardinata tidak pernah akur. Bahkan, kata Ida, suaminya itu gampang main tangan.
"Setiap bertemu kami selalu bertengkar. Sering terjadi pemukulan. Karena dia suka main tangan. Akhirnya dia menyuruh saya mengirimkan spare part mobil ke Jakarta dan akan diganti Rp 50 juta," jelasnya.
Namun, uang itu tidak pernah diberikan. Ida mengaku mengalami kerugian baik materiil maupun inmateriil. Akhirnya, dia pun memutuskan menyudahi semua ini dan menuntut hak serta meminta keadilan atas penipuan yang dilakukan kepada dirinya.
"Juga telah terjadi kekerasan fisik. Baik pemukulan maupun kejahatan seksual kepada saya. Karena keperawanan saya dirusak dengan alat dari karet. Selain itu, kerugian materi dari usaha saya," beber Ida Susanti.
Pada tahun 8 Agustus 2002, dirinya memutuskan melapor ke Polda Jatim. Dia membuat laporan karena selalu diteror dan dinacam akan dibunuh.
Namun saat bersamaan, Nardinata juga melaporkan bahwa sertifikat rumah yang dia tinggali hilang. Dan rumah tersebut telah dijual kepada keponakannya. "Sejak saat itu pula laporan saya berhenti dan tidak berjalan lagi," imbuhnya.
Pada 19 Juli 2007 terbit surat DPO (Daftar Pencarian Orang) atas nama Nardinata Marshioni Suhaimi. Namun, tetap tidak membuahkan hasil apapun.