“Dalam hal pengoperasian proyek, 43,57 persen kontrak baru merupakan kontrak bersama (joint venture) yang dimana memberikan lebih banyak manfaat bagi Perusahaan. Terlebih yaitu meminimalisir risiko finansial dalam penerapan metode teknologi, memberdayakan kapabilitas sumber daya manusia melalui transfer knowledge, dan meningkatkan Bid Win Rate Tender,” tambah Ermy.
BACA JUGA:
- Dirut Waskita Jadi Tersangka Korupsi, Kementerian PUPR Pastikan proyek Infrastruktur Tetap Jalan
- Waskita Kebut Penyelesaian Proyek Pantai Tanjung Lesung, Target Rampung Akhir 2023
Sebagai informasi, sebelumnya Perseroan memenangi nilai kontrak IKN sebesar Rp4,16 triliun di tahun 2022. Sementara sejak Januari hingga Maret 2023 ini, Perseroan sudah mendapatkan nilai kontrak baru (NKB) sebesar Rp4,7 Triliun atau sebesar 20 persen dari target NKB di tahun 2023.
Berdasarkan segmentasi proyek tersebut didominasi berasal dari proyek Pemerintah sebesar 63,50 persen, BUMN & BUMD sebesar 22,68 persen dan sisanya dari entitas Anak Perusahaan sebesar 13,83 persen.
Hal ini sejalan dengan target Perseroan yang menargetkan pembayaran melalui monthly payment. “Dengan monthly payment arus kas Waskita berjalan dengan lancar,” jelas Ermy.
Salah satu dari proyek yang didapat Perseroan yaitu proyek di Luar Negeri, proyek pembangunan Bandara Suai dan Jalan Sakato – Noefafan yang rampung pada 2020.
BACA JUGA:
- Waskita Bakal Jual Kepemilikan Empat Ruas Tol Tahun Ini
- Dirut Waskita Karya Jadi Tersangka, 6 Karyawannya Digarap Kejagung
“Setelah itu Waskita juga memperoleh proyek pekerjaan Bandara Internasional President Nicolau Lobato yang ada di Timor Leste dengan total nilai kontrak Rp1,1 triliun. Dan tahun 2022 Waskita kembali dipercaya Pemerintah Timor Leste untuk mengerjakan proyek Jalan Noefefan - Oenuno di Oé-Cusse, Timor Leste senilai 22,1 juta dolar AS atau setara dengan Rp 322 milliar,” pungkas Ermy.