BACA JUGA:
"Dan yang terpenting adalah Nasaruddin Umar tidak menjadi batu sandungan PDIP pada Pemilu 2029. Sama dengan posisi Wapres Ma'ruf Amin sekarang, tidak mencalonkan diri lagi. Berbeda kalau mengusung politikus lain atau sosok berkarakter seperti Mahfud MD, tentu akan menjadi batu sandungan untuk Puan atau Ganjar di 2029,” ujarnya.
Selain itu, jika Nasaruddin Umar menjadi pendamping Ganjar maka peta konstelasi pasangan Pilpres 2024 akan berubah.
"Dengan munculnya nama Imam Besar Masjid Istiqlal ini yang dihembuskan berpasangan dengan Ganjar Pranowo itu mempengaruhi konstelasi pasangan pilpres tidak hanya pasangan Ganjar saja, tapi juga pasangan Prabowo dan Anies Baswedan juga," katanya.
Munculnya nama Nasaruddin Umar kata dia menjadi representasi dari warga Nahdlatul Ulama, dan hal itu tentu akan mempengaruhi rencana pasangan Prabowo-Muhaimin.
BACA JUGA:
"Muhaimin juga representasi NU, tapi dengan hadirnya nama Nasaruddin Umar, itu merugikan Prabowo kalau tetap berpasangan dengan Muhaimin Iskandar. Artinya Prabowo mesti mencari calon lainnya yang bukan dari representasi NU agar tidak langsung berhadap-hadapan dengan pasangan Ganjar-Nasaruddin," kata dia.
Nasaruddin Umar lebih unggul daya tarik pemilih dibandingkan Muhaimin Iskandar karena, Nasaruddin tidak terafiliasi partai politik, benar-benar murni hanya sebagai ulama yang tentunya bisa dianggap mewakili suara NU kultural.
Sedangkan, sosok Muhaimin Iskandar lebih pada sisi NU struktural, Cak Imin memiliki kekuatan karena posisinya sebagai pemimpin partai politik.
BACA JUGA:
- Tak Mustahil Prabowo Mengalah dan Terima Jadi Cawapres Pendamping Ganjar Pranowo, Ini Alasan Kuatnya
"Yang paling banyak di NU tentu yang kultural dibanding struktural. Kalau Ganjar jadi dengan Nasaruddin artinya ini mengulang model seperti periode pilpres Jokowi berpasangan dengan KH Ma'ruf Amin," kata dia lagi.
Tidak hanya terkait calon wapresnya Prabowo, kehadiran Nasaruddin Umar juga mempengaruhi pilihan calon wakil presiden dari Anies Baswedan.