MYANMAR – Raja suku Konyak berada di Myanmar. Tetapi untuk urusan makan mereka mendapatkan suplai dari India. Beda negara, beda tempat. Beda aturan.

Soal jarak, sangat tipis. Desa-desa yang dihuni suku Konyak, berada persis di perbatasan Myanmar dan India. Mereka hanya dipisahkan oleh perbukitan.

Mereka tetap bertahan di tengah kondisi memperihatinkan. Ini garis hidup mereka untuk menghimpun peradaban.

Konyak hanyalah salah satu dari puluhan suku Naga. Totalnya ada ada 400.000 orang. Silisilahnya pun berbeda-beda. Mereka terpisah, dan terasing di ujung utara Myanmar yang terpencil.

Untuk sampai ke kota, mereka harus berjalan kaki puluhan kilo menyusuri perbukitan dan lembah. Hanya untuk menjual sayur-sayuran.

Di masa-masa normal, mereka hidup dalam belas kasih tentara India yang menjaga pos-pos perbatasan. Kerap suku ini pun dicap sebagai ancaman kelompok gerilyawan menentang pemerintahan Myanmar.

Tonyei Phawng, mengklaim sebagai generasi ke-12 yang mendapat gelar raja dan memimpin suku Konyak.

Ia memimpin puluhan prajurit. Mengidentifikasi anak buahnya sangat mudah. Lihat saja tatonya.

Tonyei Phawng, generasi ke-12 yang mendapat gelar raja. (Foto: Afp)

Para prajurit ini tak segan mereka menghabisi nyawa lawan dan membawa pulang kepala musuh sebagai piala.

”Hak-hak kami ditolak (Merdeka, Red). Tapi negara tidak memberikan kemudahan bagi rakyatnya,” tutur Tonyei Phawng.

Perbatasan ditutup. Akses dipersulit. Ini bukan atas kemauan mereka. Tak terkecuali tentara India. Larangan masuk perbatasan dilakukan dengan alasan wabah Virus Corona (Covid-19).

”Kami tak kenal itu (Corona, red). Kami kebal dalam ancaman penyak. Tapi mereka tak percaya,” ucapnya.

Penolakan yang terjadi nyaris menimbulkan kericuhan di perbatasan. Untung saja pemerintah India menyediakan ransum darurat sebagai pengganti agar kami tidak mencari nafkah di kawasan perbatasan.

”Semua dari mereka (Tentara India) Tidak ada yang datang dari otoritas Myanmar,” terangnya.

Rumah Tonyei Phawng berada di tengah-tengah pagar perbatasan Myanmar-India (Foto: Afp)

Pemandu wisata asal Longwa, Nahmai Konyak (34) menuturkan suku Konyak hidup di Myanmar. Tapi selama ini kesulitan, terasing.

Pemerintah setempat mengabaikan keberadaan mereka. ”Kami sendiri tidak bisa membantu mereka,” ucapnya.

Kawasan yang dihuni suku Konyak, merupakan demarkasi terlarang sejak dulu. Nyaris tidak tersentuh kolonial Inggris. Suku Konyak mampu melindungi 44 warga desa yang tinggal di perbatasan.

Di seberang perbatasan, desa-desa suku tersebut tidak memiliki jaringan listrik apalagi fasilitas sekolah. Lokasinya gelap dan berlumpur. Namun disitulah ribuan ”Naga”—julukan tentara suku Konyak. Mereka memiliki senjata selama beberapa dekade guna mempertahankan tanah air mereka.

Suku Konyak tinggal di perbatasan tanpa aliran listrik maupun fasilitas pendidikan (Foto: Afp)

Pemberontak terakhir pecah pada akhir 80-an. Suku Konyak terbelah  menjadi dua kelompok utama.

Warga sipil harus membayar pajak untuk membantu membiayai kelompok itu. Dan banyak keluarga mengorbankan putra untuk ikut mengangkat senjata. Perlawanan ini dimotori aktivis Myanmar Naga Jacob Ngansa.

Dengan makin mesranya hubungan India-Myanmar, ini adalah saat-saat yang tidak menyenangkan bagi kaum nasionalis Suku Konyak. Mereka ingin menyatu, tetapi tidak dengan India atau pun Myanmar.

 Kepentingan Politik

Partai Nasional Naga (NNP) Myanmar yang baru dibentuk mencoba masuk ke dalam Suku Konyak. Tujuannya jelas. Yaitu untuk mendapatkan dukungan suara baru. Alih-alih mampu memulihkan kondisi ekonomi dan menjanjikan hidup layak. Tapi penentangan pun terus terjadi.

Ketua NNP Shu Maung menegaskan, mereka siap bekerja dan membawa membawa perubahan. Pertarungan untuk kotak suara akan dimulai. ”Kami akan tepati janji itu,” ujarnya.

Inilah Aktovitas Suku Konyak. Mereka bergotong-royong menjaga tradisi. (Foto: Afp)

Anggota parlemen regional untuk Liga Nasional Demokrasi Kail-anak sayap NNP pun mencoba meyakinkan. Prioritas utamanya adalah pendidikan, perawatan kesehatan dan makanan untuk Suku Konyak.

”Begitu kita memiliki itu, maka mungkin generasi muda bisa bertarung lagi untuk mimpi itu,” terang Shu Maung. (ful)