ROMA – Pemerintah Italia makin panik atas serangan wabah Virus Corona yang menyerang warganya hingga menimbulkan korban jiwa dengan jumlah yang begitu fantastis. Alih-alih keadaan darurat kegiatan bisnis di negeri pizza itu pun harus ditutup hingga 3 April. Ini upaya menghentikan epidemi mematikan itu.

Ya Italia telah mencatat lonjakan kematian akibat virus corona hampir 800-an warganya hingga Minggu (22/3). Jumlah tersebut menambah daftar korban kematian di negara itu menjadi hampir 5.000 orang.

”Kami benar-benar terpukul dengan kondisi ini. Ini adalah krisis paling sulit dalam periode pasca perang. Pemerintah merespon semua masukan yang ada, sampai basis bisnis dan industri pun kami tutup,” kata Perdana Menteri Conte dalam sebuah video yang dimuat di Facebook.

BACA JUGA: DARI NATUNA, HERCULES SAMPAI JAKARTA

Meski demikian, sambung Conte, hanya kegiatan produksi yang dianggap vital untuk produksi nasional yang akan diizinkan. ”Jelas ada pengecualian. Terutama pada basis vital. Yang penting kita tekankan, pasokan tetap berjalan lancar, sementara kebutuhan logistik, khususnya makanan dapat tersedia. Jujur ini bukan perkerjaan mudah bagi Italia,” ungkapnya.

MIRIP KOTA MATI: Lengang hanya nampak seorang karyawan perusahaan di Kota Florence, menyemprotkan disinfektan pada ruas jalan. Pemerintah Italia memutuskan untuk menghentikan basis bisnis untuk mencegahan dan penyebarluasan pedemik Virus Corona di negara tersebut. (FOTO: CARLO BRESSAN/AFP)

Ditambahkan Conte, toko swalayan, apotek, layanan pos dan perbankan akan tetap buka, dan beberapa layanan publik yang penting, termasuk transportasi, akan dipastikan tetap berjalan.

”Kami memperlambat mesin produksi negara tetapi tidak akan menghentikannya,” katanya.

Pemerintah Italia diperkirakan akan menerbitkan dekrit darurat pada Minggu untuk membuat tindakan keras terbaru bisa segera berjalan efektif.

Negara-negara terkaya di dunia mencurahkan bantuan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk perekonomian global pada Kamis (19/3) saat jumlah kematian akibat COVID-19 di Italia sudah melebihi di China, tempat virus corona jenis baru itu muncul pertama kalinya.

Dengan hampir 228.000 infeksi dan lebih dari 9.200 kematian di seluruh dunia, epidemi tersebut mengejutkan dunia dan membuat orang membandingkannya dengan periode-periode menyakitkan seperti Perang Dunia Kedua, krisis keuangan 2008 dan flu Spanyol 1918.

”Kita berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan aturan normal tidak lagi berlaku,” ujar Sekjen PBB Antonio Guterres.

Para pembuat kebijakan di Amerika Serikat, Eropa dan Asia telah memangkas suku bunga dan membuka keran likuiditas untuk mencoba menstabilkan ekonomi yang dilanda rantai pasokan yang terputus, transportasi yang terganggu dan bisnis yang lumpuh.

Virus, yang diduga berasal dari satwa liar di daratan Cina akhir tahun lalu, telah menyebar ke 172 negara dan wilayah lain dengan lebih dari 20.000 kasus baru dilaporkan dalam 24 jam terakhir, yang merupakan rekor harian baru.

Kondisi Italia berbanding terbalik dengan Korea Selatan. Dari data yang dihimpun Fajar Indonesia Network pada situs remi negara setempat pada Minggu (22/3) dilaporkan 98 kasus baru Covid-19, yang merupakan kelanjutan tren penurunan jumlah kasus virus corona jenis baru itu per harinya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korsel juga menyebut. Angka baru ini menjadikan jumlah total pengidap corona di negara itu menjadi 8.897 sementara angkat kematian tidak berubah, yaitu 104 kasus.

Jumlah 98 kasus baru itu menandai hari ke-11 berturut-turut penurunan angka pasien infeksi baru sebanyak 100, dibandingkan dengan puncak 909 kasus pada 29 Februari.

SUNYI: Seseorang mengunakans sepeda melintas di depan Colosseum monument di Rome. (Foto: Alberto Pizoli/Aafp)

Namun, otoritas kesehatan mendesak berbagai fasilitas untuk tetap tutup dan masyarakat tetap menjaga jarak interaksi sosial. Masalahnya, ada kekhawatiran soal kasus penularan virus yang dibawa dari luar negeri serta karena wabah baru muncul di kelompok-kelompok kecil.

Dari kasus-kasus baru itu, sebanyak 43 di antaranya muncul di Daegu, kota yang paling parah dilanda wabah COVID-19, sementara 26 ditemukan di kota metropolitan Seoul. Sedangkan di Seoul, wabah dilaporkan muncul di rumah-rumah sakit dan tempat kerja. (fin/ful)