Presiden Turki Tegas Tolak Swedia Masuk NATO, Menhan Swedia Beri Jawaban Mengejutkan

Presiden Turki Tegas Tolak Swedia Masuk NATO, Menhan Swedia Beri Jawaban Mengejutkan

Menteri Pertahanan Swedia Peter Hultqvist -ist-net

STOCKHOLM, FIN.CO.ID - Presiden Turki Tayyip Erdogan menolak Swedia dan Finlandia bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO. 

Erdogan menilai "negara-negara Skandinavia merupakan penginapan bagi organisasi teroris". 

Selain itu, Turki juga meminta agar negara-negara Nordik menghentikan dukungan bagi kelompok militan Kurdi dan mencabut larangan penjualan beberapa senjata ke Turki.

(BACA JUGA:Finlandia Gabung NATO, Putin Ancam Lakukan Tindakan!)

Menanggapi penolakan tersebut, Menteri Pertahanan Swedia Peter Hultqvist membuat jawaban yang mengejutkan.

"Kami akan mengirim sekelompok diplomat untuk mengadakan diskusi dan berdialog dengan Turki sehingga kami dapat melihat bagaimana ini dapat diselesaikan dan tentang apa sebenarnya ini," kata Hultqvist kepada penyiar layanan publik SVT dikutip Antara, Senin, 16 Mei 2022.

Partai Sosial Demokrat yang berkuasa di Swedia mengakhiri penentangan mereka selama 73 tahun untuk bergabung dengan NATO dan berharap bisa segera mendapat akses untuk meninggalkan dekade non blok militer setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

(BACA JUGA:Finlandia Bergabung ke NATO, Vladimir Putin: Adalah Langkah Keliru)

"Eropa, Swedia, dan rakyat Swedia sekarang hidup dalam realitas baru dan berbahaya," kata Perdana Menteri Swedia Magdalena Andersson dalam debat di parlemen.

Andersson dan beberapa pemimpin partai lainnya mengatakan Swedia tidak menginginkan pangkalan militer NATO atau senjata nuklir di wilayahnya.

Pemerintah akan mengambil keputusan resmi untuk diterapkan di kemudian hari dan dapat melakukannya tanpa pemungutan suara di parlemen.

Finlandia pada Minggu (15/5) mengonfirmasi akan mengajukan permohonan untuk bergabung dengan NATO.

Namun, Turki mengejutkan para anggota NATO lainnya dengan mengatakan tidak akan memandang positif permohonan dari Finlandia dan Swedia.

Presiden Turki Tayyip Erdogan beralasan "negara-negara Skandinavia adalah penginapan bagi organisasi teroris".

Sumber: