Wow, Ternyata Lelaki Seks Lelaki Lebih Rentan Kena HIV Aids, Berikut Data dari UNAIDS

Wow, Ternyata Lelaki Seks Lelaki Lebih Rentan Kena HIV Aids, Berikut Data dari UNAIDS

Ilustrasi posisi dalam hubungan seksual-Photo by ROMAN ODINTSOV from Pexels-

JAKARTA, FIN.CO.ID - Data Penyumbang Kasus HIV dari kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL) dan transgender terus meningkat. 

Menurut data UNAIDS pada 2019, populasi penderita HIV baru dari kalangan LSL dan transgender mencapai 18 persen.

(BACA JUGA:Lima Juta Buruh Mogok Kerja Tiga Hari Tiga Malam, Teddy: Jangan Mudah Terpengaruh dengan Propaganda)

Sementara peningkatan risiko tertular HIV terbesar adalah kelompok LSL (22 kali) sementara kelompok transgender memiliki potensi risiko tertular 12 kali.

Sementara jumlah kasus HIV di Indonesia menurut faktor risiko menunjukkan bahwa LSL menyumbang sebanyak 506 kasus pada 2010 dan 555 kasus pada 2011. 

Berdasarkan pemodelan matematik epidemi HIV di Indonesia 2010-2025 dengan menggunakan data demografi, perilaku dan epidemiologi pada populasi utama oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, diproyeksikan akan terjadi peningkatan kasus HIV yang signifikan pada seluruh kelompok LSL.

Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKS Kurniasih Mufidayati menyebut, berbagai data peningkatan faktor risiko penularan HIV/AIDS dari kelompok LSL yang masuk dalam kelompok LGBT harus diwaspadai keluarga Indonesia.

(BACA JUGA:Ini Alasan Polisi Tidak Bisa Menangkap Terduga Pelaku Pemalakan Mobil Boks, yang Videonya Viral di Medsos )

Kewaspadaan ini dalam rangka menekan salah satu penyakit menular yang menjsdi concern bukan hanya Indonesia tapi juga dunia.

“Kewaspadaan keluarga Indonesia terhadap perilaku LGBT karena memiliki faktor risiko penularan yang tinggi dalam penyebaran HIV/AIDS. Lindungi anak-anak kita agar jauh dari tindakan penyimpanan seksual yang berpotensi memiliki faktor risiko tinggi penularan HIV,” Kurniasih, dikutip Minggu, 15 Mei 2022.

Kewaspadaan ini, papar Kurniasih, termasuk dengan melindungi dari konten-konten yang mempromosikan tindakan LGBT secara terbuka lewat media termasuk media sosial.

“Adanya konten-konten yang secara terbuka mempromosikan tindakan LGBT bagi masyarakat Indonesia adalah konten yang harus diwaspadai. Selain meminimalkan faktor risiko penularan HIV AIDS juga karena tindakan LGBT tidak sesuai dengan norma kebudayaan masyarakat di Indonesia,” ungkap Kurniasih.

(BACA JUGA:Survei Membuktikan! 73,8 Persen Masyarakat Puas Penanganan Arus Mudik dan Balik Lebaran 2022)

Politikus PKS ini mengatakan, tindakan LGBT tidak diterima oleh masyarakat Indonesia tercermin dari massifnya protes publik terhadap salah satu konten kreator yang mengangkat perbincangan oleh pelaku LGBT yang hidup di luar negeri.

Sumber: