Awas! Muncul Virus Baru Bernama NeoCov, Tingkat Kematian dan Penularannya Sangat Tinggi

Awas! Muncul Virus Baru Bernama NeoCov, Tingkat Kematian dan Penularannya Sangat Tinggi

Bahaya Virus Baru Bernama NeoCov-Ilustrasi-Kemenkes

 

JAKARTA, FIN.CO.ID - Ilmuwan asal Wuhan, China baru-baru ini telah menemukan virus corona NeoCoV.

 

Disebutkan bahwa virus tersebut memiliki tingkat kematian dan tingkat penularan yang tinggi, menyebar melalui kelelawar di Afrika Selatan.

 

Melansir dari laman Business Insider, NeoCoV adalah virus yang terhubung dengan Middle East Respiratory Syndrome (MERS COV).

 

Data terbaru menunjukkan bahwa ada satu dari tiga orang yang terinfeksi bisa meninggal karena NeoCoV.

 

(BACA JUGA:Sering Diserang Netizen, Sabrina Chairunnisa Jadi Ogah Unggah Foto Bareng Deddy Corbuzier di Instagram)

(BACA JUGA:Tahun Baru Imlek, 25 Narapidana Konghucu Terima Remisi Khusus)

 

Virus ini pertama kali ditemukan pada populasi kelelawar dan diketahui menyebar di antara hewan.

 

NeoCoV memiliki ciri-ciri dari MERS-CoV dan SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19

 

Sebuah studi baru yang diterbitkan pada pra-cetak dan belum ditinjau sejawat telah menemukan bahwa antibodi yang menargetkan SARS-CoV-2, menyebabkan COVID-19, dan MERS-CoV, tidak dapat menemukan NeoCoV.

 

“Studi kami menunjukkan bahwa vaksinasi COVID-19 saat ini tidak mencukupi untuk melindungi manusia dari kemungkinan infeksi yang disebabkan oleh virus ini,” kata para peneliti tentang virus tersebut.

 

(BACA JUGA:ABG Mabuk, Bonceng Tiga Tanpa Helm, Ngebut, Tabrak Mobil, Dan Meninggal Dunia)

(BACA JUGA:3 Cara Redakan Sakit Gigi, Gak Perlu Repot Keluar Rumah)

 

NeoCoV sendiri pertama kali ditemukan pada 2012 dan 2015 di negara-negara Timur Tengah. ini memiliki nilai yang mencolok dengan SARS-CoV-2 (virus corona baru) pada manusia.

 

Para ilmuwan mengatakan mereka tidak yakin apa yang akan terjadi dengan NeoCoV dan jika memang ada dampak fatal maka berpotensi menimbulkan ancaman bagi manusia dalam waktu dekat.

 

“Apakah virus yang terdeteksi dalam penelitian ini akan menimbulkan risiko bagi manusia akan memerlukan penelitian lebih lanjut,” kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kepada kantor berita Rusia TASS.

 

Virus ini dilaporkan satu mutasi lagi dari menjadi ancaman utama bagi manusia.

Sumber: