Pasien DBD dengan Kriteria Ini Berpotensi Alami Rasa Lelah Berkepanjangan

Pasien DBD dengan Kriteria Ini Berpotensi Alami Rasa Lelah Berkepanjangan

DBD, Demam, Pusing, Sakit Kepala, Image oleh Alexandra_Koch dari Pixabay--

JAKARTA, FIN.CO.ID - Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Dr. Cipto Mangungkusumo, Dr. dr. Erni Juwita Nelwan, PhD, SpPD, K-PTI mengingatkan soal potensi lelah berkepanjangan pada pasien DBD berat.

Akibat hal ini, pasien DBD berat berpotensi mengalami waktu pemulihan yang berjalan lamban, menyebabkan rasa lelah berkepanjangan.

"Ada gejala-gejala yang muncul akibat infeksi demam berdarah yang berat, maka ada fase pemulihan yang berjalan perlahan,” kata dokter Erni Juwita Nelwan dalam sebuah pernyataan.

BACA JUGA:Periode Januari Hingga September 2022, Kasus DBD di Kabupaten Tangerang Tembus Lebih Dari 1.000 Kejadian

“Sehingga menimbulkan gejala rasa lelah yang berkepanjangan,” lanjut dia.

Fakta ini menurut dia, diungkap oleh para ahli yang terlibat dalam studi di Malaysia pada The American Society of Tropical Medicine and Hygiene.

Dalam temuan studi itu, diketahui bahwa kelelahan yang mengakibatkan penurunan kapasitas untuk bekerja, terjadi selama tahap akut demam berdarah dan dapat bertahan selama beberapa minggu setelah pemulihan.

Bicara demam berdarah dengue, bagaimana ciri orang kena DBD? Menurut ahli, DBD menyebabkan demam tinggi 40 derajat Celcius yang disertai gejala seperti sakit kepala, nyeri otot, tulang atau sendi; mual dan muntah, sakit di belakang mata hingga munculnya ruam di permukaan kulit.

Jika pada kebanyakan pasien DBD hanya membutuhkan satu pekan untuk pulih, namun mereka yang mengalami kasus DBD berat seperti sindrom syok dengue berpotensi mengalami kondisi yang dapat mengancam nyawa.

Indonesia Jadi Negara Pertama di Dunia Ijinkan Vaksin DBD dari Takeda

Perusahaan farmasi Takeda umumkan telah disetujuinya penggunaan Vaksin Dengue Tetravalen (TAK-003), oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Menariknya, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang mendapatkan persetujuan vaksin TAK-003 untuk mencegah DBD.

Adapun usia orang yang layak untuk menerima vaksin DBD keluaran Takeda ini, adalah mereka yang berusia 6 hinggg 45 tahun.

“Dengan gembira kami umumkan bahwa vaksin DBD kami telah mendapatkan izin di Indonesia,” kata Dr. Mahender Nayak selaku Asia Pacific Area Head Takeda, dalam sebuah pernyataan pers.

“(Izin vaksin DBD Takeda di Indonesia ini) menandakan era baru dalam penanganan dengue,” sambungnya.

Dengan diberikannya lampu hijau atas penggunaan vaksin DBD Takeda ini, Indonesia diharapkan bisa terhindari dari efek serius yang disebabkan oleh gigitan nyamuk pembawa virus DBD.

“Dedikasi gigih dan upaya kumulatif selama bertahun-tahun yang diupayakan Takeda, telah membawa kami sampai ke titik ini, dan kami tetap berkomitmen untuk melindungi mereka yang berisiko tertular dengue di komunitas endemik, yang banyak di antaranya terletak di kawasan ini (Asia Pasifik)”.

Dengue sendiri adalah virus yang ditularkan oleh nyamuk dengan ancaman kesehatan signifikan di tingkat global, karena penyakit ini memiliki prevalensi di lebih dari 100 negara.

Pada paruh pertama tahun 2022 saja, Indonesia melaporkan lebih dari 63.000 kasus DBD dan hampir 600 kematian yang tersebar di 455 kota di 34 provinsi.

“Indonesia merupakan negara endemis DBD, kasus meningkat terutama saat awal musim hujan, dan dapat mengenai anak maupun dewasa dengan derajat penyakit ringan sampai berat,” kata Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro Sp.A(K), Profesor Penyakit Infeksi Pediatrik.

"Persetujuan untuk Vaksin Dengue Tetravalen yang baru ini merupakan opsi pencegahan DBD, terutama untuk kelompok umur 6-45 tahun, tanpa memandang infeksi DBD sebelumnya dan tanpa perlu skrining pra- vaksinasi".

"Kami menyambut baik, persetujuan dari Vaksin Dengue Tetravalen bagi umur dewasa, di mana populasi ini memiliki risiko yang sama dengan populasi lebih muda lainnya dan tidak memandang gaya hidup atau di mana mereka tinggal.

Indikasi ini berarti kita dapat melindungi lebih banyak anggota keluarga dari dengue," kata Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD- KAI, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa, PB PAPDI.

Vaksin Dengue Tetravalen ini disetujui berdasarkan hasil dari uji penelitian Fase 3 Tetravalent Immunization against Dengue Efficacy Study (TIDES) yang melibatkan lebih dari 20.000 anak dan remaja sehat berusia empat hingga 16 tahun yang tinggal di daerah endemis dengue.

Selain di Indonesia, saat ini vaksin tersebut belum mendapat persetujuan di negara lain.



Sumber: