Stres Bisa Bermanfaat jika Dikelola, tapi Membunuh jika Tidak Diatasi

Stres Bisa Bermanfaat jika Dikelola, tapi Membunuh jika Tidak Diatasi

Stress, Image oleh 1388843 dari Pixabay--

JAKARTA, FIN.CO.ID - Ada cara yang bisa dilakukan orang untuk terhindar dari gangguan kesehatan mental.

Menurut psikolog klinis Lathifah Utami, cara mengelola stres yang baik agar terhindar gangguan kesehatan mental, adalah pertama-tama dengan mengenali apa yang mendasarinya.

"Kenali akar masalah dan tetapkan langkah penyelesaiannya," kata Lathifah dalam sebuah pernyataan, via ANTARA.

BACA JUGA:Berpose seperti Superman Selama 2 Menit, Bisa Bantu Pangkas Stres, Gini Penjelasannya

Lathifah Utami mengatakan bahwa pada kasus tertentu, di mana orang tidak mampu mengatasi stresnya secara mandiri, maka mencari pertolongan ahli adalah yang diajurkan.

Dengan begitu, ahli dapat mencarikan solusi terbaik atas permasalahan yang tengah dihadapi. Dengan begitu pula maka stres bisa dikelola oleh mereka yang mengalaminya.

"Harapannya, kita menjadi lebih siap dalam mengatasi tekanan tersebut," lanjutnya.

Ia juga menambahkan bahwa yang namanya tekanan dalam hidup,  pasti selalu ada mau yang datang dari keluarga, pertemanan bahkan pekerjaan.

Dan bahwa ada kalanya stres ini dibutuhkan oleh manusia agar dirinya dapat berkembang.

Akan tetapi untuk mencapai itu, tekanan atau stres tersebut harus dapat dikelola secara konstruktif dan bukannya berdampak negatif.

Salah satu efek dari stres ketika tidak dikelola dengan baik, adalah efeknya terhadap kesehatan jantung.

Stres adalah sesuatu yang pastinya dialami oleh setiap orang. Bisa karena pekerjaan, tugas di sekolah bagi mereka yang pelajar, hubungan asmara dan lainnya.

Namun ketika dikelola dengan baik, maka stres sepatutnya bukanlah hal yang perlu ditakuti, dan tidak berdampak buruk terhadap kesehatan.

Namun sebaliknya ketika stres tidak dikontrol, maka salah satu efeknya adalah terhadap kesehatan jantung.

Menurut dokter spesialis jantung dr. Azlan Sain, Sp.JP, stres berlebihan dapat menstimulasi kerja saraf simpatis, yang efeknya adalah meningkatkan denyut dan kerja jantung.

Ketika saraf simpatis terstimulasi oleh stres, yang terjadi tanpa henti, akibat stres yang berkepanjangan, maka hal ini akan memberikan beban kerja yang lebih berat terhadap jantung.

"Anda harus bisa mengatur waktu istirahat, waktu di rumah, waktu dengan keluarga , atau waktu dengan teman-teman Anda dengan proporsi yang seimbang agar tidak menjadi stres," kata dr. Azlan Sain, via ANTARA.

Agar terhindar dari penyakit jantung koroner di kemudian hari. Dr. Azlain Zain menyarankan orang, untuk mulai menerapkan pola hidup sehat.

Dan bagi mereka yang punya risiko penyakit jantung koroner, disarankan untuk rutin memeriksakan kesehatan jantung mereka, untuk menerapkan perubahan dalam gaya hidup mereka.

Usia Pasien Serangan Jantung di Indonesia Lebih Muda

Usia pasien serangan jantung di Indonesia jauh lebih muda, ketimbang usia pasien serangan jantung di AS, Eropa dan Jepang.

Hal ini dingkap dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dr. Siska S Danny, SpJP(K).

"Usia pasien serangan jantung di Indonesia median 57 tahun. Ini jauh lebih muda dibandingkan usia di Amerika atau Eropa antara 60-65 tahun,” kata dr. Siska S Danny, SpJP(K).

“Di Jepang, malah lebih tua lagi," ungkapnya dalam acara onlin ebertajuk “Cardiovascular medicine in 2022 and beyond: Adaptive, personalized and evidence-based”.

Alasan mengapa pasien serangan jantung di Indonesia lebih muda dari Amerika, Eropa dan Jepang lanjut dia, adalah dikarenakan faktor risiko pasien di Indonesia juga tinggi.

Dan yang manjadi alasan tingginya faktor risiko pasien jantung di Indonesia ini sambungnya, adalah salah satunya terkait kebiasaan merokok.

Merujuk data pasien-pasien serangan jantung mencakup sembilan provinsi pada 2018-2019, sebanyak 65 persen pasien serangan jantung adalah perokok.

"Ini sesuai dengan data nasional bahwa proporsi perokok di Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di dunia," kata dia.

Tak hanya itu, sebanyak 51 persen pasien serangan jantung di Indonesia juga mengalami hipertensi dan 27 persen diabetes.

Sumber: