Sandi Medsos Mudah Dibobol, Orangtua Wajib Pahami Interaksi Internet Anak-Anak

Sandi Medsos Mudah Dibobol, Orangtua Wajib Pahami Interaksi Internet Anak-Anak

Ilustrasi data pelanggan bocor ke internet.-Pixelcreatures-Pixabay

JAKARTA, FIN.CO.ID - Masyarakat harus makin waspada dengan ancaman pencurian data pribadi pengguna media sosial.

Berdasarkan data Honeynet Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), jumlah serangan siber di Indonesia pada 2021 sebanyak 32 juta. 

Sedangkan di 2022, periode 1-23 Januari, jumlah serangan telah mencapai 739.192.

(BACA JUGA:Beredar Pesan Berantai di WhatsApp Janjikan Kuota Internet Gratis 30GB Promosi HUT RI, Ini Jawab Kominfo)

Salah satu model kejahatan siber yang paling sering ditemukan adalah phising. 

Yaitu upaya mendapatkan informasi data seseorang dengan teknik pengelabuan.

Merujuk data Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), terdapat 5.579 laporan phising di kuartal II/2022.

Biasanya, kata Founder dan COO Bicara Project Joddy Caprinataoknum, pelaku phising melakukannya dengan menduplikat situs web atau aplikasi, umumnya medsos.

(BACA JUGA:Akses Internet Cepat Kelas Dunia Siap Hadir di Kawasan Timur Indonesia)

Ia mencontohkan, pernah terjadi duplikasi situs halaman FB (Facebook), tapi bila dicermati seksama link-nya aneh.

"Bukan facebook.com tapi facebook.cixx6.com. Ini bukan FB asli," ujar Joddy dalam webinar bertema Waspada dan Lawan Kejahatan Siber, di Makassar, Sulawesi Selatan, dikutip Sabtu (3/9/2022).

Pelaku kejahatan membuat layanan FB palsu dengan tujuan mengelabui dan memanipulasi agar memasukkan nama ID dan kata sandi. 

"Jika sudah mencuri password atau data pribadi, akhirnya disalahgunakan,” beber Joddy.

(BACA JUGA:Dorong Pemerataan Akses Internet di Seluruh Indonesia, Telkomsat Peroleh Hak Labuh Starlink dari Kominfo)

Sumber: