Rupiah Melemah, Menyusul Kenaikan Suku Bunga Terbesar oleh The Fed Sejak 1994

Rupiah Melemah, Menyusul Kenaikan Suku Bunga Terbesar oleh The Fed Sejak 1994

Uang rupiah (Pixabay)--

JAKARTA, FIN.CO.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah awal pekan ditutup melemah, dibayangi prospek kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.

Rupiah ditutup melemah 11 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp14.836 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.825 per dolar AS.

(BACA JUGA:Teten Masduki Tegaskan 6 Program Prioritas Kemenkop UKM Mesti Berjalan: Jangan Kerja Sekadar Formalitas)

"Pelaku pasar terus menilai prospek kebijakan moneter AS dan risiko resesi menyusul kenaikan suku bunga terbesar oleh The Fed sejak 1994," kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Senin, 20 Juni 2022.

The Federal Reserve menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 0,75 persen ke level 1,75 persen pada tengah pekan lalu.

Bank sentral juga bersiap untuk menaikkan tingkat suku bunga pada Juli dan Agustus mendatang.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal dalam kajiannya mengatakan, pelaku pasar tengah mencerna pernyataan Presiden Fed Cleveland Loretta Mester dalam sebuah wawancara dengan CBS News pada Minggu (19/6/2022).

(BACA JUGA:Kurs Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah, Dua Hal Jadi Faktor Pemicunya)

Di mana dia mengatakan bahwa perlu waktu setidaknya dua tahun untuk inflasi mendekati level 2 persen.

Selain itu, dia juga memperkirakan target pertumbuhan akan lebih lambat meskipun dia tidak memprediksi untuk situasi resesi.

Para pembuat kebijakan The Fed juga melihat kenaikan suku bunga berturut-turut sebesar 75 bps dalam pertemuan pada Juli.

"Kenaikan suku bunga yang tinggi dapat memacu tingkat pengangguran di atas 4 persen namun The Fed berdedikasi untuk melakukan apapun yang diperlukan untuk mengendalikan kekacauan inflasi," ujar Faisyal.

(BACA JUGA:Rupiah Melemah, Dolar AS Diprediksi Bergerak Lebih Jauh)

Perlambatan ekonomi AS sudah terlihat dalam perilisan data ekonomi pada sepanjang pekan lalu yang hasilnya dipandang pesimis mulai dari penjualan ritel hingga pembangunan rumah baru.

Sumber: