Dewi Roro
Sebenarnya perjalanan itu bisa hemat dua jam kalau jalan di Ciracap tidak sebopeng itu. Saya heran di tahun 2026 masih ada jalan seburuk itu di Jabar.
Lalu lintas pun sesak. Jalan yang sempit kian menyempit. Dia tidak menemukan apa yang dulu dia lihat: keindahan bumi Parahyangan. Dia merasa penat sepanjang jalan. Itulah jalan utama ke Pelabuhan Ratu.
Maka saya pikirkan pilihan lain: lewat situ lagi tapi tengah malam. Siapa tahu lebih lancar. Kegelapan malam juga bisa menutup kekumuhan kiri kanan jalan.
Saya lama memikirkan bagaimana cara mengatasi persoalan itu: betapa sulit. Menyangkut kehidupan rakyat kecil. Tidak boleh digusur begitu saja.
Misalkan jadi gubernur Jabar saya mengaku: tidak mampu mengatasi persoalan sepanjang jalan itu. Rasanya hanya orang seperti KDM yang mampu. Kang Dedi Mulyadi adalah tokoh yang sangat populer. Dicintai rakyatnya. Luar biasa. Hanya tingkat kecintaan seperti itu yang bisa dimanfaatkan untuk meyakinkan rakyat tentang perlunya penataan. Tanpa itu rakyat akan melawan dan pejabatnya akan kewalahan.
"Kembalikan Priangan" termasuk misi KDM. Di sepanjang jalan yang saya lalui ini misalnya, sudah berdiri tiang listrik baru ''ala Sunda''. Merata. Tidak habis-habisnya. Sebagian terlihat cantik dengan warna aksesori emasnya, sebagian tenggelam oleh kekumuhan sekitarnya. Semangat mendirikan ''tiang listrik khas Sunda'' itu seperti tidak ada duanya.
Maka begitu istri mengeluh soal jalan menuju Pelabuhan Ratu saya ingat informasi lama: jalan lintas selatan Jawa Barat sangatlah mulus. Baik. Saya putuskan tidak balik ke Jakarta. Pilih lewat lintas selatan –entah ke mana.
Ternyata tidak semulus di pikiran. Sejak pertigaan Waluran jalan penuh bopeng. Keriting. Mobil terus terguncang. Rasanya biar pun naik mobil hanya bisa secepat orang jalan kaki: 5 km/jam.
Baru menjelang Surade bopengnya berkurang. Berarti dua jam lebih terasa tersiksa. Kalau sampai ada warga yang tidak mau bayar pajak sampai jalan dibuat mulus berarti kemarahan rakyat memang sudah sangat dalam.
Jalan mulus itu baru benar-benar ditemukan setelah Surade. Mulusnya luar biasa. Mulus terus. Sampai Sindangbarang. Sampai Cidaun. Sampai Ciheras. Pun sampai Pangandaran. Tentu kami mampir Ciheras. Apalagi Ricky Elson buka kafe di bibir pantai: Cafe Senja by Lentera Bumi.
Dari Ciheras kami langsung ke Pangandaran. Akhirnya tujuan kami: Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien. Kami bermalam di pesantren, sedikit di timur kota Pangandaran.
Baca Juga
Baru kali ini saya menjelajah jalan selatan Jabar. Dari Pelabuhan Ratu sampai Pangandaran. Secara utuh. Dulu-dulu hanya sepotong-sepotong.
Sudah beberapa kali saya ke pesantren ini meski di sini tidak ada perkelahian antara Nyi Roro Kidul dan Dewi Kwan Im.
Berita Terkait
Layar Marlupi
Anak Sembrono