Catatan Dahlan Iskan . 08/11/2026, 05:38 WIB

Layar Marlupi

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

"2,5 tahun," jawab Fifi. "Anak sekarang umur 2,5 tahun sudah pintar-pintar," tambahnyi dalam bahasa Inggris. "Mungkin orang tua sekarang menyiapkan anak mereka lebih baik dibanding zaman dulu," ujar Fifi.

Tiba-tiba tangan Fifi menunjuk ke layar. "Look. That anaknya Pak Syahroni, anggota DPR," ujar Fifi. "Anak beliau masuk akademi yang di Sunter," tambah Fifi.

Pertunjukan keempat terlihat beda. Ternyata mereka adalah guru-guru akademi yang di Jakarta. Mereka tidak mau kalah dengan tampilan murid-murid balet sendiri. "Para guru ingin turut berduka dengan cara menari balet," kata Fifi. Marlupi adalah gurunya para guru itu.

"Pertunjukan berikutnya adalah balet yang paling digemari mama," kata Fifi. "Tuh sudah mulai," tambahnyi.

Oh... ini. Balet yang ini sih saya tahu judulnya: Swan Lake. Penarinya remaja. Saya ikut tidak berkedip. Bagus sekali. Rasanya inilah Swan Lake terbaik yang pernah saya tonton di dalam negeri. Duh kaki-kaki yang lincah yang hanya bertumpu pada ujung ibu jari itu, betapa matangnya mereka. Rasanya tidak kalah dengan Swan Lake yang pernah saya tonton di salah satu panggung balet dunia. Di Leningrad –sekarang St. Petersburg.

"Kalau di mata Anda berapa nilai Swan Lake para remaja di layar itu?" tanya saya kepada Fifi.

"Very good. Seven," jawab Fifi.

Rasanya almarhumah Marlupi ikut tersenyum bangga dari dalam peti jenazah: akademinyi mencapai usia 70 tahun. Yang lebih bangga lagi: dia punya anak segila dirinyi sendiri: Fifi.

Fifi gila balet. Gila beneran. Melebihi gila mamanyi.

"Kalau kegilaan mama terhadap balet saya nilai 100, berapa kegilaan Anda?" tanya saya ke Fifi.

"150," jawab Fifi. "Yes. Sure," tambahnyi.

Rasanya saya setuju dengan itu. Anak lebih hebat dari orang tua. Fifi membuktikan itu dengan membuat Marlupi Dance Academy tidak lagi hanya jago kandang. Fifi berani "menantang" Jakarta. Dia melihat Jakarta adalah medan tempur yang lebih besar –yang bila berhasil hasilnya luar biasa.

Fifi berhasil. Tidak mudah. Jakarta tidak kenal Marlupi, apalagi Fifi. Di Jakarta sudah ada buah bibir yang lebih internasional: Farida. Anda sudah tahu siapa Farida –lebih tahu lagi setelah disebut nama lengkapnyi: Farida Syuman.

Farida adalah pebalet pertama Indonesia yang bisa sekolah sampai di ''Harvard''-nya balet: Akademi Balet Bolshoi di Rusia –Uni Soviet saat itu.

Waktu di Rusia itulah Farida kenal dengan mahasiswa Indonesia yang belajar perfilman di sana: Syumanjaya. Mereka pun kawin. Punya dua anak. Cerai. Dua-duanya tetap jadi legenda: Farida di balet, Syumanjaya di penyutradaraan film. Dua-duanya sudah meninggal dunia.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id