Catatan Dahlan Iskan

Lama Profesor

Harusnya lima tahun yang lalu pun Dr dr Brahmana Askandar sudah layak dikukuhkan jadi profesor. Tapi nyatanya baru Rabu pagi ini gelar guru besar itu diperoleh –di Universitas Airlangga Surabaya.

Lama Profesor

Kini Aurelia sudah punya dua anak. Proses kehamilannya normal –tidak perlu menggunakan sperma yang disimpan di bank sperma.

Sudah lama saya tidak bertemu Aurelia. Bertemu terakhir di pesawat, saat sama-sama pulang dari Singapura. Saat itu saya ke Singapura untuk menjenguk Ibu Ani Bambang Yudhoyono, almarhumah. "Suami saya pernah dirawat di sebelah kamar Bu Ani di rumah sakit yang sama," ujar Aurelia kala itu.

Kini Brahmana tinggal konsentrasi menyembuhkan sang istri –menderita kanker paru sejak 2021.

Di pidato pengukuhan guru besarnya pagi ini Prof Brahmana akan menguraikan terapi presisi, bedah robotik, dan kecerdasan buatan di bidang ongkologi ginekologi menyongsong Indonesia Emas 2045.

Bersamaan dengan Prof Brahmana, dua guru besar lainnya juga dikukuhkan: Prof Dr Sri Endah Kinasih SSos di bidang antropologi hukum dan migrasi, serta Prof Dr drh Rochmah Kurnijasanti di bidang ilmu natural product farmakoterapi dan toksikologi.

Selama ini saya banyak berdiskusi dengan Prof Brahmana. Juga beberapa kali diundang podcast IDI Surabaya. Saya mendapat pandangan tajam darinya: kelemahan utama dokter di Indonesia adalah sulitnya membentuk tim yang sehati, permanen, dan solid.

"Kalau keahlian dokternya kita tidak kalah dengan dokter di negara maju. Kelebihan mereka adalah punya tim yang kuat. Kita sulit membentuk tim seperti itu," katanya kepada saya suatu ketika.

Pendapat Prof Brahmana itu terus saya ingat. Harus dicarikan jalan untuk bisa terwujud. Mungkin kuatnya dokter memegang prinsip sebagai profesi punya dampak sampingan: para dokter menjadi sangat egois.

Saya juga akan terus ingat kata-kata ketua tim dokter yang melakukan transplantasi hati saya –meski sudah 20 tahun lalu. Yakni saat ia mengumpulkan tim dokter yang menangani pemulihan saya –karena tidak segera menemukan jalan keluar dari keluhan saya.

"Kalian ini, setelah berhasil jadi dokter, lalu berhenti sebagai ilmuwan. Tidak boleh begitu. Dokter harus terus jadi ilmuwan. Temukan apa penyebab keluhan pasien kita ini," katanya yang terus terngiang di telinga saya. Mungkin ia mengira saya tidak mengerti bahasa Mandarin.

Terapi presisi memang kian jadi tuntutan. Tentu dokter bisa melakukan terapi presisi kalau di tingkat pemeriksaan sebelumnya sangat tepat. Teknologi untuk pemeriksaan itu kian maju.

Presisi, untuk kanker, juga berarti targeted. Harus memilih obat yang bisa langsung menuju ke sel kanker. Tapi ada kendala besar. Kanker banyak macamnya. Pun bisa berubah. Pemeriksaan harus kian presisi. Juga kian up-to-date. Hasil pemeriksaan sebelumnya bisa saja sudah tidak sama.

Prof Brahmana termasuk dokter yang tidak berhenti sebagai ilmuwan. Ia terus belajar –termasuk dalam melakukan operasi pakai robot dan pakai kecerdasan buatan.

Di dalam praktik dokternya ia sering menemukan kasus yang memerlukan keilmuan. Misalnya ada pasien kanker ovarium. Kankernyi sudah metastasis ke liver. Brahmana harus melakukan operasi konservatif. Ia pertahankan rahim dan satu indung telur pasien. Lalu mengangkat bagian liver yang ada metastasisnya. Setelah itu baru dikemoterapi.

"Sekarang dia sehat. Anaknyi sudah dua orang," katanya.

Berita Terkait