Iklan
Iklan
Catatan Dahlan Iskan

Misteri 3060

Saya masih tertinggal di Beijing. Masih ada dua rapat yang harus saya ikuti. Sebagian besar rombongan sudah pulang Jumat sore. Sebagian lagi meneruskan perjalanan pribadi ke Shanghai. Ada yang ke Xi'an. Ada juga yang ingin lebih lama di Beijing. Ada pula yang sudah lebih dulu ''pulang'' ke London.

Misteri 3060
Langit begitu biru saat Dahlan Iskan dan rombongan DIsway Business Adventures Vol. 5 berfoto di halaman pabrik mie instan Master Kong, Tianjin.--

Oleh: Dahlan Iskan

Saya masih tertinggal di Beijing. Masih ada dua rapat yang harus saya ikuti. Sebagian besar rombongan sudah pulang Jumat sore. Sebagian lagi meneruskan perjalanan pribadi ke Shanghai. Ada yang ke Xi'an. Ada juga yang ingin lebih lama di Beijing. Ada pula yang sudah lebih dulu ''pulang'' ke London.

Di Beijing saya makan siang di kantin perusahaan tempat saya rapat. Janet dan suami sudah kembali dari Jakarta. Di Tiongkok biasa saya alami: perusahaan punya kantin sendiri. Tidak ada bedanya dengan restoran. Baik tatanan mejanya maupun menunya. Mereka umumnya punya juru masak sendiri. Karyawan tidak perlu meninggalkan kantor terlalu lama untuk makan siang.

Biasanya ada satu atau dua ruang VIP di kantin seperti itu. Tergantung besar kecilnya perusahaan. Juga tergantung pada banyak tidaknya tamu penting –khususnya dari luar negeri.

Di perusahaan tempat saya rapat itu hanya ada satu ruang VIP dengan meja makan bundar untuk 10 kursi. Di masa lalu setiap kali masuk ruang seperti itu sering berdebat dulu: siapa yang harus duduk di ''kursi kepala naga''. Yakni kursi yang posisinya lurus dari pintu masuk.

Posisi kursi semacam itu kadang ditandai dengan bentuk kursi yang sedikit berbeda. Kadang ditandai dengan cara penempatan kain pengelap mulut. Untuk kursi biasa kain putihnya dilipat indah –ditaruh di atas piring. Untuk kursi kepala naga kain putihnya dilipat rapi untuk ditempatkan di gelas anggur merah.

Beberapa kali saya dipaksa untuk duduk di kursi kepala naga seperti itu. Kemarin paksaan seperti itu akhirnya saya terima –daripada lama saling dorong. Kasihan yang perutnya sudah sangat lapar –seperti perut saya.

Yang lebih sering: saya "memaksa" pimpinan perusahaannya untuk menempati kursi kepala naga.

Di kantin yang kemarin semua jenis kursinya sama. Penanda kepala naganya ada di kain lap mulut berwarna putih. Tugas utama kepala naga tidak otomatis sebagai yang harus bayar. Yang terpenting adalah ajakan untuk memulai makan. Anda pun bisa melakukannya. Caranya: Anda mengangkat gelas anggur merah agak tinggi, memandang wajah semua yang di sekeliling meja, lalu menoleh ke tamu penting di sebelahnya, menyentuhkan gelas Anda ke gelasnya, mengajak orang itu dan orang semeja untuk bersulang. Kanpei!!!

Kemarin siang yang dipakai bersulang adalah jus jagung warna kuning. Mereka tidak ada yang mau minum anggur merah karena saya tidak minum itu. Sebagian juga karena itu adalah makan siang: setelah makan harus bergegas ke ruang kerja dengan pikiran waras.

Menu makanannya enak dan enak sekali. Tapi saya lebih tertarik pada nama kantin itu sendiri. Namanya pakai angka: 3060. Posisi kantin itu di lantai bawah. Menghadap ke plaza. Orang yang lalu-lalang di plaza bisa melihat ''3060'' dari jauh: ukuran tinggi angkanya satu meter. Warnanya biru. Yakni warna langit Beijing sekarang ini. Saya perlu menyebut warna langit Beijing adalah biru. Saya ingat 30 tahun lalu: tidak pernah bisa tahu apakah warna langit Beijing sama dengan langit Jakarta kala itu.

Kini yang terjadi sebaliknya: warna langit Jakarta kusam. Bahwa kita tahu warna langit Jakarta adalah biru hanya karena syair lagu anak-anak mengatakan begitu. Kenyataan sehari-harinya kita tidak tahu apa warna langit Jakarta: selalu tertutup kabut polusi. Bukan kabut biasa. Itu kabut yang mengandung partikel-partikel mikro yang ikut terisap ke paru-paru. Termasuk partikel mikro plastik yang sangat berbahaya.

Langit Beijing-lah yang tahun-tahun terakhir justru membiru. Itu murni karena 3060.

Anda sudah tahu apa arti 3060. Di Tiongkok anak baru gede pun tahu apa arti angka itu: target yang harus dicapai pemerintah Tiongkok. Yakni puncak emisi Tiongkok akan terjadi di tahun 2030. Setelah itu emisi karbon harus mendatar. Lalu terus menurun.

Tahun 2060 sudah harus netral: tidak ada lagi emisi karbon di seluruh Tiongkok.

Berita Terkait