Catatan Dahlan Iskan . 29/10/2026, 05:31 WIB
Meski acara itu mundur satu minggu kami tetap dijadwalkan ke Kedubes: makan malam. Horeee. Gratis. Kebetulan sudah tiga hari rombongan dibombardir masakan setempat. Sudah kangen masakan Indonesia. Bu Wiwik Oratmangun, istri duta besar, pandai sekali masak –di samping sangat pandai menyanyi.
Yang terakhir itulah yang kadang membuat saya takut ketemu pak Dubes Djauhari: takut disuruh menyanyi. Pernah saya harus ada acara di Kedubes RI di Beijing. Saking takutnya saya terpaksa mengajak teman yang bisa menyanyi: suami Janet. Aman.
Selasa malam kemarin saya lebih aman. Dalam rombongan kami banyak yang bisa menyanyi. Bahkan, salah satunya bisa menyanyi lagu yang saya belum pernah mendengar, pun judulnya: Sesuatu di Jogja. Ia seorang doktor ahli politik kesultanan Indonesia. Ia peneliti sultan-sultan yang pernah dan masih ada. Termasuk mengapa ada sultan yang bisa terpilih jadi DPRD/DPR/DPD di Pemilu. Mengapa pula tidak. Bahkan ada sultan yang di Gowa yang sudah enam kali ikut Pemilu selalu kalah dari keluarga dinasti baru Syahrul Limpo.
Nama anggota rombongan yang satu ini: Dr Bayu Dardias Kurniadi. Ia tahu jerohan kesultanan di seluruh Indonesia. Sangat mendalam. Apalagi kesultanan Jogja dan Solo.
Keluarga Bayu pengusaha pasir batu yang besar di Sumedang. Istrinya juga ilmuwan langka: doktor antropologi kedokteran. Dua-dua dari UGM. Mereka tinggal berdua di rumahnya di Jogja. Dua anaknya kuliah dan kerja di Belanda. Sudah setahun Dr Bayu menjabat asisten staf khusus Mas wapres.
Anggota rombongan lainnya, Sumantoro Radjiman, menyanyi lagu My Way yang dipelesetkan jadi Disway. Danishara Maria Ulfa, putri pengusaha Demak Bu Mur, menyanyi lagu mandarin. Dengan jilbab hitamnya dia menyanyikan lagu Qing Fei De Yi.
Di barisan depan saya lihat Yosephin, putri pengusaha AC kereta dari Solo menggerak-gerakkan kaki saat Danishara menyanyi. Saya tarik Yosephin ikut nimbrung. "Saya tidak bisa menyanyi," katanyi. Banyaknyi yang memaksanyi tampil. Ia cantik. Lulusan dan masih tinggal di Brisbane, Australia. Begitu dia mau tampil ternyata hot: dia yang geraknya paling atraktif.
Tentu kita semua menunggu tuan rumah menyanyi. Bu dubes menyanyi lagu Jawa dan Mandarin. Pak dubes menyanyi Yue Liang. Wadubes dr Irene yang sudah hampir setahun menjabat wakilnya Pak Djauhari, menyanyikan lagu Killing Me Softly.
"Saya senang sempat berguru ke Pak Djauhari," ujar dr Irene merendah. "Beliau adalah guru saya. Mentor saya," tambahnyi.
Menu malam itu istimewa: pepes ikan, rendang, pecel Wonosobo, dan aksesorinya.
"Lho ada ya Pecel Wonosobo," tanya saya ke Bu dubes. "Saya pikir di dunia ini hanya ada Pecel Madiun," tambah saya.
"Ini dinamakan Pecel Wonosobo hanya karena yang masak saya," jawab Bu dubes lantas tersenyum.
Ada yang terasa aneh di Pecel Wonosobo made in Bu dubes ini: sayurnya kacang panjang, kecambah, irisan wortel, dan daun yang sangat hijau. Belum pernah ada pecel dengan sayur seperti itu. "Maafkan, sulit cari sayur seperti di Madiun. Ini pakai sayur kale," ujar Bu dubes.
Ups... pecel dengan sayur kale. Di Indonesia sayur kale itu mahal sekali. Biasanya untuk salad. Inilah kali pertama makan pecel dengan sayur kale. Ternyata sangat cocok dengan bumbu pecelnya. "Saya akan minta istri kalau bikin pecel pakai sayur kale," kata saya kepada Bu dubes.
Ludes.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id