Pendidikan

91 Persen Siswa Indonesia Khawatir AI Membuat Mereka Bekerja Lebih Cepat, Tetapi Tidak Memahami Materi Secara Mendalam

Laporan terbaru HP Futures melibatkan lebih dari 6.000 siswa dan 58 pakar dari berbagai negara untuk mengkaji bagaimana sistem pendidikan dapat mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan dunia kerja.

91 Persen Siswa Indonesia Khawatir AI Membuat Mereka Bekerja Lebih Cepat, Tetapi Tidak Memahami Materi Secara Mendalam

Laporan terbaru HP Futures melibatkan lebih dari 6.000 siswa dan 58 pakar dari berbagai negara untuk mengkaji bagaimana sistem pendidikan dapat mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan dunia kerja.

Sorotan utama

  • Lebih dari sembilan dari 10 (91%) pelajar khawatir bahwa meski AI membantu mereka bekerja lebih cepat, pemahaman mereka terhadap materi menjadi kurang mendalam.
  • 67% siswa meyakini AI akan membuka lebih banyak peluang karier daripada menghilangkannya.
  • 84% siswa yakin dapat menggunakan perangkat AI secara efektif dan bertanggung jawab dalam karier mereka kelak, sementara 88% menilai pendidikan yang mereka terima telah mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja.

fin.co.id - Lebih dari sembilan dari 10 (91%) pelajar Indonesia khawatir bahwa meski AI membantu mereka menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, mereka justru tidak memahami materi secara mendalam.

Temuan ini terungkap dalam survei global HP Futures 2026 terhadap lebih dari 6.000 pelajar, termasuk 2.097 pelajar Indonesia. Angka di Indonesia tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan seluruh negara yang disurvei.

Laporan HP Futures yang disusun oleh HP bersama Global Learning Council dan Education Leaders Forum ini juga menghimpun masukan dari 58 pemimpin di bidang pendidikan, kebijakan publik, dan masa depan dunia kerja untuk membahas bagaimana sistem pendidikan dapat membekali generasi muda menghadapi dunia kerja di masa depan.

Di tengah meningkatnya penggunaan AI, ketika ingin mengingat materi pelajaran, para pelajar masih mengandalkan cara-cara lama, seperti mencetak atau menulis tangan.

Lebih dari separuh responden (52%) memilih metode yang melibatkan cetak atau tulisan tangan, sedangkan hanya kurang dari satu dari lima pelajar (17%) yang memilih ringkasan berbasis AI sebagai metode utama.

Meskipun mengkhawatirkan dampak AI terhadap kedalaman pemahaman mereka, siswa Indonesia tetap optimistis terhadap prospek karier di dunia yang semakin didukung teknologi AI. Lebih dari dua pertiga siswa (67%) meyakini AI akan menciptakan lebih banyak peluang karier daripada menghilangkannya.

Selain itu, 84% yakin dapat menggunakan perangkat AI secara efektif dan bertanggung jawab dalam karier mereka kelak, sementara 88% menilai pendidikan yang mereka terima telah mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja.

David McQuarrie, Chief Commercial Officer HP sekaligus Ketua HP Futures mengatakan, “Pendidik, pembuat kebijakan, dan pelaku dunia usaha memikul tanggung jawab bersama untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi peluang dan tantangan sepanjang hidup dan karier mereka. Di tengah pesatnya transformasi cara belajar dan bekerja akibat kecerdasan artifisial (AI), tanggung jawab itu menjadi semakin penting.

“Sistem pendidikan perlu berbuat lebih banyak untuk membantu pelajar mengembangkan, menunjukkan, dan terus mengasah kemampuan yang tetap bernilai, apa pun arah perkembangan teknologi,” ujar David.

Survei tersebut juga mengungkap bahwa pelajar Indonesia menilai kreativitas dan berpikir kritis sebagai keterampilan terpenting dalam pasar kerja masa depan. Para pelajar menempatkan keterampilan esensial yang tahan zaman (durable skills) ini di atas keterampilan teknis.

Kreativitas berada di posisi teratas (67%), diikuti berpikir kritis (63%), serta komunikasi dan kolaborasi (58%). Adapun literasi AI dan digital berada di peringkat kelima (40%).

Laporan ini menyerukan kepada para pembuat kebijakan di Indonesia dan berbagai negara untuk menyusun arah kebijakan yang jelas dalam membantu siswa mengembangkan keterampilan yang akan terus relevan di masa depan.

Berita Terkait