Iris Istri
Setelah camino dua etape, kami makan siang di Magome. Ini lokasi transit camino Nakasendo yang lebih besar dan lebih indah. Makan siangnya set Jepang.
Oleh: Dahlan Iskan
Setelah camino dua etape, kami makan siang di Magome. Ini lokasi transit camino Nakasendo yang lebih besar dan lebih indah. Makan siangnya set Jepang. Meski menunya istimewa tapi itu bukan agenda pokok --itu keharusan orang hidup. Agenda terpenting di Magome --agak malu menyebutkannya-- adalah membeli talenan.
Sssstttt....!
Itu jangan dihubungkan dengan doktrin sayang istri. Istri memang suka masak dan butuh talenan, tapi dia sudah punya beberapa. Beli talenan di Magome lebih karena ikut-ikutan.
Ketua rombongan kami, pengusaha sangat besar itu, mampu menceritakan kehebatan talenan Magome. Sama mampunya dengan saat menceritakan mengapa Jepang sampai punya 2.200 lapangan golf. Termasuk bagaimana talenan Magome dibeli lebih banyak dari jumlah pemain golf di Jepang yang mencapai 10,7 juta orang.
Ia bisa bercerita detail bahkan sampai bagaimana sistem dan prosedur mencuci talenan: jangan dicuci dengan deterjen. Jangan pula dicuci dengan sabun berlebihan. Itu akan menghilangkan zat-zat di kayu talenan. Padahal zat-zat itu mengandung aroma harum dan anti bakteri.
Talenan juga tidak boleh terendam air. Atau selalu basah. Meski anti bakteri tapi talenan tidak anti jamur. Kalau sampai talenan berjamur amatlah berbahaya bagi kesehatan.
Talenan harus selalu kering.
Ia juga bisa menjelaskan jenis-jenis talenan. Talenan untuk potong daging harus dibedakan dengan talenan untuk potong sayur dan cabai. Juga harus berbeda dengan talenan untuk potong buah --biasanya lebih tipis.
Dari yang penting-penting itu ada yang tidak kalah penting: pisau untuk mengiris. Pisau harus sangat tajam --agar tidak terlalu ditekan sampai melukai talenan.
Baca Juga
Pokoknya bos perusahaan besar itu bisa menjelaskan karakter talenan sama baiknya dengan memahami karakter para partner bisnisnya.
Saya pun ikut masuk toko oleh-oleh. Di Tsumagu saya membeli caping Jepang. Itu karena saya tidak membawa topi. Saya selalu taat pada dokter transplantasi di Tianjin: hindari terik matahari.
Di Magome saya ikut lagi masuk toko oleh-oleh: untuk membeli talenan. Ketika mulai memilih, ketua rombongan menghampiri saya.
"Jangan beli di sini pak. Kita ke sana saja. Lebih banyak pilihan," kata ketua rombongan itu.
Saya pun membututinya. Ia mendaki jalan naik. Saya ikut. Ia belok kanan. Saya ikut. Tanjakan jalan batu itu kian tinggi. Ia kian jauh di depan.
Berita Terkait
Iris Istri
PLN Transisi