Catatan Dahlan Iskan

Iris Istri

Setelah camino dua etape, kami makan siang di Magome. Ini lokasi transit camino Nakasendo yang lebih besar dan lebih indah. Makan siangnya set Jepang.

Iris Istri

Ternyata toko yang dimaksud masih jauh lagi di atas sana. Jalannya menanjak. Maka ia kian jauh di depan. Apalagi ia justru berlari di jalan yang paling menanjak. Saya pilih mengerem kaki. Saya sadar: beda umur. Tidak boleh emosi. Jangan karena t!lenan napas putus di tanjakan.

Saya pilih istirahat sebentar. Kebetulan ada kincir air yang amat tua di tepi jalan menanjak. Setelah naas tertata saya mengejarnya lagi: pelan-pelan. Setiap toko saya tengok --siapa tahu ia di dalamnya.

Akhirnya tibalah di toko itu: toko talenan.

Ia benar: aneka ukuran dipajang di seantero toko. Talenan daging. Talenan sayur. Talenan buah. Tidak hanya talenan. Mangkok kayu pun ada. Juga sendok kayu, centong, piring, cangkir dan segala macam alat dapur dari kayu.

Saya ambil satu talenan. Satu saja. Itu pun belum tentu dia pakai. Bisa hanya disimpan untuk kenangan.

Magome memang dikenal sebagai penghasil kayu terbaik di Jepang: kayu hinoki. Itulah sebabnya kerajinan kayu lahir di Magome. Sejak zaman Edo. Tekstur kayunya memberi rasa tangan yang berbeda dibanding talenan kayu lain.

Kayu hinoki dikenal di Jepang sebagai kayu pilihan untuk membangun istana, kuil, pagoda dan bangunan lain yang ingin berumur panjang. Bahkan, di Jepang, kayu hinoki biasa digunakan untuk bak mandi. Bukan pohon besar yang dipahat. Bak itu terbuat dari papan-papan hinoki yang disambung dan dirangkai. Tukang kayu di Jepang tahu: tidak akan bocor. Sifat kayu hinoki khas: bila basah justru mengembang. Berarti begitu kena air bagian sambungannya kian rapat. Karena itu saya justru khawatir kalau tumbuh di Indonesia kayu hinoki dianggap bisa untuk jamu sari rapat.

Saya melirik ketua rombongan: ia membeli lima talenan. Istrinya membeli tongkat kayu panjang. "Untuk pakai sepatu," katanyi. Betul. Baru sekali itu saya melihat ada alat bantu pakai sepatu yang tongkatnya panjang sekali: agar pemakai sepatu tidak perlu jongkok atau membungkuk.

Alat itu disebut shoehorn. Biasa juga disebut sendok sepatu. shoehorn dari kayu hinoki tentu istimewa: ringan dan aroma kayunya khas.

Di Indonesia saya tidak tahu kayu apa yang dibuat talenan. Anda tahu? Mungkin kayu jati. Padat dan kering. Juga tidak terlalu keras --terasa ketika menggergaji jati lebih mudah. Atau kayu sawo. Mahoni. Jangan-jangan kayu waru.

Kayu waru terbukti cocok untuk sandal santri: tidak mudah lembab, ringan dan tidak terlalu keras bagi ujung pisau. Juga untuk bantal santri --di samping kayu randu.

Apa pun kayunya sebenarnya yang terpenting adalah tangan istri: gaya mengiris tiap istri tidak sama. (Dahlan Iskan)

Berita Terkait