Dua Petani Perempuan Indonesia Raih 100 Women Heroes FAO 2026 di Roma
Dua perempuan Indonesia, Rulyantina dari Pandeglang, Banten, dan Istiqamah dari Aceh, menerima anugerah 100 Women Heroes dalam rangka International Year of the Woman Farmer 2026.
fin.co.id - Dua perempuan Indonesia, Rulyantina dari Pandeglang, Banten, dan Istiqamah dari Aceh, menerima anugerah 100 Women Heroes dalam rangka International Year of the Woman Farmer 2026 yang diselenggarakan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO) di Roma, Italia.
Penghargaan ini menjadi pengakuan internasional atas kontribusi perempuan dalam pembangunan pertanian, mulai dari inovasi pangan lokal, peningkatan nilai tambah komoditas, penguatan kelembagaan petani, hingga perluasan akses pasar internasional.
Kiprah keduanya memperlihatkan bahwa perempuan tani memiliki peran penting dalam mendorong inovasi, memperkuat ekonomi masyarakat, dan meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia.
Atase Pertanian Republik Indonesia di Italia, Muharfiza, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi perempuan Indonesia dalam mengembangkan pertanian yang inovatif dan berkelanjutan di tingkat global.
“Pengakuan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kiprah perempuan Indonesia kepada dunia. Rulyantina menunjukkan bagaimana komoditas pangan lokal dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, sementara Istiqamah memperlihatkan pentingnya penguatan kelembagaan petani, peningkatan kualitas produk, dan perluasan akses pasar internasional,” ujar Muharfiza.
Menurut Muharfiza, pengalaman kedua penerima penghargaan tersebut mencerminkan beragam kontribusi perempuan dalam rantai usaha pertanian, baik melalui inovasi pengolahan hasil, pengembangan usaha berbasis potensi lokal, maupun penguatan koperasi untuk meningkatkan posisi tawar petani.
Kiprah mereka juga menunjukkan pentingnya dukungan terhadap peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian, akses pasar, dan praktik usaha yang berkelanjutan.
Rulyantina, yang dikenal dengan sebutan “Unni Talas Beneng”, merupakan inovator pangan asal Pandeglang, Banten.
Ia mengembangkan talas beneng, komoditas umbi lokal khas Banten, menjadi beragam produk bernilai tambah melalui pendekatan zero waste atau minim limbah.
Dalam pengembangan talas beneng, Rulyantina juga mendapatkan pendampingan dari Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Banten sebagai bagian dari dukungan Kementerian Pertanian terhadap pengembangan potensi komoditas lokal.
Baca Juga
Inovasi tersebut mendorong diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat perdesaan, khususnya perempuan dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Melalui pengolahan bahan baku secara optimal, Rulyantina memperlihatkan potensi komoditas lokal untuk menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Pengembangan talas beneng juga memperkuat pemanfaatan sumber pangan alternatif sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat. Sinergi antara inovasi pelaku usaha dan pendampingan pertanian diharapkan dapat mendorong pengembangan komoditas khas daerah menjadi produk bernilai tambah, memperkuat ekonomi perdesaan, serta memperkaya pilihan pangan Indonesia.
Sementara itu, Istiqamah dari Aceh berkontribusi dalam pengembangan usaha perkebunan kopi melalui perannya sebagai sekretaris koperasi yang mewakili 980 anggota dengan pengelolaan lahan perkebunan kopi seluas lebih dari 1.200 hektare.