Catatan Dahlan Iskan . 14/10/2026, 05:28 WIB

Warisan Sumbu

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

Yang tertinggal di Kartosuro pun memindahkan ibu kota ke desa Sala --sekarang di pusat kota Solo. Yakni setelah terjadinya Geger Kuning --gerakan perlawanan yang banyak diikuti orang Tionghoa. Orang Tionghoa memang lagi marah kepada Belanda di mana-mana. Yakni sejak Belanda melakukan pembantaian besar-besaran suku Tionghoa di Tangerang.

Setelah menjadikan Yogyakarta sebagai ibu kota Mataram pasca perjanjian Giyanti, Hamengkubuwono I membuat perencanaan kota Yogyakarta. Bukan pakai sistem kotak-kotak seperti Washington DC. Bukan kuldesac seperti Paris. Bukan lingkar-lingkar seperti Italia. Tapi berdasar sumbu selatan-utara. Itu dikaitkan dengan filsafat perjalanan kehidupan manusia --meski soal panggung Krapyak masih menyisakan tanya.

Yang membuat itu jadi warisan budaya dunia UNESCO: rancangan yang sudah berumur 300 tahun itu masih hidup sampai sekarang dan masih jadi pembicaraan. Memang Malioboro masih belum bisa dipulihkan. UNESCO dan Pemkot Yogyakarta terus berkoordinasi. Mereka sudah punya jadwal tahapan-tahapan program pembenahannya. Saling monitor. Tapi bola ada di Pemkot Yogyakarta.

Di Shanghai, problem jalan melintas seperti itu juga ada di Nanjing Dong Lu. Itulah ”Malioboro”--nya Shanghai. Mobil tidak boleh melintas. Tapi jalan yang memotongnya tidak sebanyak di Malioboro. Jalan yang melintas itu juga cukup lebar. Pejalan kaki di Jalan Nanjing Dong Lu sesekali di-stop untuk memberi kesempatan lalu-lintas di jalan yang memotong tetap berfungsi.

Wali Kota Hasto sudah berhasil mengayunkan dua langkah di Malioboro. Ia masih perlu banyak melangkah di depan. Ia wali kota pertama dari PDI-Perjuangan di Yogyakarta. Juga wali kota pertama yang bukan berdarah pendiri Muhammadiyah.

Hasto sukses besar saat jadi bupati Kulon Progo. Juga sukses ketika jadi kepala BKKBN --jabatan setara menteri. Hasto pun sukses sebagai dokter --sampai jadi ahli bayi tabung dan punya rumah sakit sendiri di Yogyakarta. Ia juga sukses sebagai suami dari seorang istri yang juga dokter spesialis anak.

Tugasnya sebagai wali kota Yogyakarta tinggal tiga tahun lagi. Ia sulit menjabat dua periode karena sudah dihitung satu periode saat jadi bupati Kulon Progo.

"Masih berpraktik sebagai dokter?" tanya saya.

"Masih, meski pun tinggal seminggu sekali," katanya. "Itu pun saya batasi 50 pasien saja," tambahnya.

"Kenapa masih berpraktik?"

"Itu untuk memenuhi pesan ibu. Tidak boleh berhenti menolong pasien," jawabnya.

Kini pasiennya tidak hanya manusia. Ia juga harus menolong merawat warisan dunia lembaga kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa UNESCO berupa: Sumbu Filosofi Malioboro.

Saya pun pamit, besoknya harus ke Nagoya. (Dahlan Iskan)

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id