Catatan Dahlan Iskan . 13/10/2026, 05:39 WIB

Hati Ngadirejo

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

Sang ibu sangat ingin anaknyi kuliah. Andrew pun dikirimi lagi uang. Kali ini Rp 500.000. Kata sang ibu, itu uang terakhir yang dimiliki ibunya. Kalau dengan uang itu tidak juga bisa diterima di perguruan tinggi mana pun ya sudah. Andrew harus cari kerja. Cari uang. Untuk bisa kuliah.

Maka Andrew belajar lebih keras. Siang malam. Ia tidak ingin mengecewakan harapan ibunya. Akhirnya Andrew lulus tes untuk D3 di lingkungan ITS Surabaya. Tentu tidak bisa tinggal bersama sang ibu. Ia tinggal di rumah kerabat keluarga dari Pacitan.

Sebagai lulusan dari daerah pedalaman Andrew awalnya sulit mengejar nilai teman-teman D3-nya. Rangkingnya di atas 10 besar. Ia belajar lebih keras. Sambil jadi tukang ojek di Surabaya. Prestasi akademiknya naik. Ia lulus D3 cum laude. Bahkan yang terbaik di antara lulusan seangkatannya.

Dengan prestasi itu Andrew bisa melanjutkan kuliah D4 di PENS --Politeknik Elektro Negeri Surabaya. Ia juga dapat pekerjaan paruh waktu di laboratorium universitas. Kebetulan peralatan di lab itu tidak berfungsi. Rusak. Andrew diminta memperbaikinya. Dalam tiga bulan lab itu kembali berfungsi.

Sebelum lulus PENS, Andrew mendapat kabar buruk: ibunya sakit. Sakitnya berat: kanker. Sang ibu berhenti bekerja. Juga memutuskan untuk pulang ke Ngadirejo --ingin meninggal di sana. Andrew terpukul berat. Perasaannya sangat terganggu. Ia ingin mendampingi dan merawat sang ibu. Tapi ibunya sendiri ngotot minta Andrew menyelesaikan kuliah di Surabaya.

Maka sang ibu tidak sempat melihat anak tunggalnya lulus sarjana. Padahal tidak lama lagi kelulusan itu tiba. Lulusnya cum laude pula.

Sejak ibunya meninggal itulah Andrew selalu mengantongi uang Rp500.000 di sakunya. Itulah uang terakhir yang dimiliki sang ibu. Itulah lambang perjuangan seorang ibu. Punya kebutuhan mendesak apa pun uang Rp500.000 itu tidak boleh diganggu.

Pun selama Andrew mendapat beasiswa S-3 dari negara: yang diingat adalah ibunya. Ia harus jadi doktor. Ia belajar sangat keras. Pembimbingnya mengarahkan Andrew untuk melakukan penelitian terjadinya keretakan pada struktur beton. Andrew dapat dukungan dari para kontraktor-gedung untuk mendapatkan objek penelitian. Tersusunlah disertasi berjudul "Multiresolution Spanial Attention-U-net (Mrsa-u-net): Model segmentasi retak untuk pemantauan kesehatan struktur beton".

Andrew lulus doktor dengan predikat summa cum laude --dengan saksi uang Rp500.000 tetap menjaga sakunya. Itulah yang ia anggap mewakili kehadiran sang ibu di wisuda doktor komputer ITS-nya.

Andrew begitu sulit masuk ITS. Harus lewat D3 dan D4. Kini ia doktor summa cum laude ITS dan menjadi dosen di situ.

"Jimat" uang Rp500.000 itu kelihatnnya juga akan jadi syarat bagi calon pacar atau istri Andrew. Sang calon harus punya komitmen untuk menjaga uang itu agar tetap di situ.

"Kenapa tidak segera menikah?"

"Saya masih punya tanggungan keluarga," katanya.

"Anda kan anak tunggal. Ayah-ibu sudah tidak ada. Keluarga yang mana lagi?"

"Saya masih harus membantu anak bude. Bude itu yang dulu merawat saya waktu kecil. Saya harus membantu anak bude," ujar Andrew.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id