Catatan Dahlan Iskan

Pengusaha Pilihan

Di Yogyakarta saya ingin tahu: seberapa banyak para pengrajin sudah memanfaatkan AI untuk perusahaan mereka.

Pengusaha Pilihan

Satu eksporter lagi, Johni Sahlab, mengombinasikan AI dengan cara tradisional. Termasuk dalam melihat dari mana datangnya ancaman masa depan pengrajin Yogyakarta.

"Dari Kamboja," katanya.

"Sudah pernah ke Kamboja?"

"Sudah pak. Satu minggu di sana," jawabnya.

Saya setuju dengan jawaban itu. Saya lihat Kamboja maju sekali. Bisa jadi the next Vietnam. Saya pernah melakukan perjalanan darat dari Kamboja ke Vietnam --untuk melihat denyut perkembangan ekonomi di kawasan itu. Belum semaju Indonesia tapi grafik kenaikannya sangat tinggi.

Dulu, di antara tiga negara Indochina hanya Vietnam yang orangnya pekerja keras. Laos dikenal paling malas. Kamboja di tengah-tengah kerja kerasnya Vietnam dan malasnya Laos. Ada pepatah yang selalu saya ingat untuk menggambarkan kategorisasi itu:

Orang Vietnam bekerja menanam padi; Orang Kamboja hanya melihat bagaimana orang Vietnam menanam padi; Orang Laos hanya mendengarkan cerita bagaimana padi itu tumbuh.

Johni itu ingin melihat sendiri calon-calon pesaingnya dari Kamboja. Agar bisa ambil keputusan antisipasi apa yang perlu disiapkan. Saya setuju dengannya: seperti ini tidak bisa minta bantuan AI.

Ada satu lagi eksporter: dia seorang wanita. Lily Widjaja. Dulunya eksekutif di perusahaan asing. Ketika orang tuanyi meninggal, dia harus pulang kampung ke Yogyakarta: meneruskan perusahaan eksporter minyak atsiri dan nilam. Nama perusahaannyi: CV Indaroma.

Dia minta perhatian pemerintah dua hal: kian sedikitnya pohon nilam dan banyaknya petani yang tidak memegang teguh etika dagang.

Di Yogyakarta kian sulit mendapat daun nilam untuk diproses jadi minyak atsiri --antara lain jadi bahan baku parfum. Dia harus mendatangkan dari Sulawesi dan bahkan dari Aceh. Biayanya bertambah.

Dia sebenarnya ingin minta agar pemerintah membina petani nilam. Tapi permintaan itu saya cegah: pengusaha tidak boleh minta bantuan pemerintah. Biasakan tidak usah berharap. Pengusaha harus mengatasi semua persoalan yang dihadapi.

Pun soal banyaknya petani yang ingkar janji: mereka minta kepadanyi modal kerja --untuk memanen daun nilam. Setelah panen daunnya dikirim ke perusahaan lain. Lalu pinjaman modalnya tidak terbayar --atau dibayar dengan janji di panen berikutnya.

Saya juga minta kepadanyi untuk tidak meneruskan keluhannyi. "Yang mengalami seperti itu banyak sekali. Jangan dikira hanya Anda," kata saya. Itu memang persoalan berat. Tapi itu juga tugas pengusaha sendiri untuk mengatasinya. Jadi pengusaha itu sulit. Justru di situlah yang membuat pengusaha itu istimewa.

Apalagi di saat seperti ini usaha yang paling mudah itu hanya satu: menjadi tim sukses --biar pun Pemilunya masih jauh. Padahal itu penyakit nomor satu yang harus dijauhi pengusaha. Pengusaha tidak boleh menipu dan harus memegang janji. Tim sukses boleh menipu dan ingkar janji.

Berita Terkait